Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Sumur Tua Peninggalan Majapahit di Makam Troloyo, Trowulan, Mojokerto

Moch. Chariris • Jumat, 22 Maret 2024 | 06:32 WIB

 

BERSEJARAH: Pengunjung sedang mengambil air di sumur tua Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Noval Perdana for Radar Majapahit)
BERSEJARAH: Pengunjung sedang mengambil air di sumur tua Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Noval Perdana for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT – Trowulan, Mojokerto menyimpan banyak sejarah peninggalan pada masa Kerajaan Majapahit.

Salah satunya, sumur tua berada di area kompleks Makam Troloyo, Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

SUMBER AIR: Pengunjung mengamati sumur tua Troloyo di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Noval Perdana for Radar Majapahit)
SUMBER AIR: Pengunjung mengamati sumur tua Troloyo di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Noval Perdana for Radar Majapahit)

Situs sumur tua ini diyakini warga sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit di abad ke-13.

Selain menjadi bukti adanya peradaban masa Kerajaan Majapahit, air yang berada di sumur tua ini dipercaya mujarab untuk pengobatan.

”Selain itu, sumur tua ini juga dikenal dengan hal mistis,” ujar Sutrisno, 55, warga setempat, Kamis (21/3).

Sutrisno menjelaskan, sumur tua Troloyo sempat ada rencana untuk ditutup, dan dijadikan toilet umum.

Namun, kebanyakan warga tidak setuju akhirnya niat tersebut diurungkan.

Di sekitar sumur tua, terdapat pendapa untuk beristirahat bagi peziarah yang melakukan ritual keagamaan di Makam Troloyo.

Di sisi selatan sumur terdapat sebuah kendi berukuran besar dan bermotif unik.

Tidak hanya itu, di sisi timur sumur terdapat lesung atau alat tumbuk padi peninggalan Kerajaan Majapahit.

Sumur tua ini kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Seperti, Cirebon, Cilacap, Medan hingga Kalimantan.

”Biasanya, wisatawan mengambil air dengan membawa jeriken maupun botol untuk dipergunakan dengan maksud-maksud tertentu,” pungkas Sutrisno. (laila ramadani)

Editor : Moch. Chariris
#troloyo #majapahit #sumur