RADARMAJAPAHIT - Sekitar 700 tahun silam, orang Majapahit telah menerapkan teknologi pengatur suhu ruangan tanpa mesin.
Yakni, dengan melumuri dinding bambu menggunakan tanah lempung.
Lapisan itu mampu menjaga temperatur rumah tetap sejuk saat musim panas dan tetap hangat saat hawa dingin menyergap.
Tanpa air conditioner (AC) dan mesin pemanas ruangan seperti heater, penduduk kerajaan Majapahit yang eksis mulai abad ke-13 tetap hidup nyaman.
Mereka tak kepanasan ataupun kedinginan saat berada di rumah.
Adalah pengetahuan tentang sifat alami tanah yang membuat leluhur dari era Jawa kuno itu mampu mengendalikan suhu.
Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis mengatakan, salah satu kemampuan itu dapat dilihat dari kebiasaan menggunakan lumpur untuk melapisi dinding rumah.
Dinding berbahan gedek bambu dilumuri tanah liat agak basah atau lempung dari kedua sisi.
’’Jadi seperti tembok, itu dulu mbah saya masih pakai seperti itu,’’ ungkap pria kelahiran 1958 itu.
Menurut Anis, lumpur yang dilapiskan ke anyaman bambu menempel secara kuat berkat sifat alami merekat yang dimilikinya.
Bahkan, lapisan ini bisa bertahan selama bertahun-tahun.
Perawatan metode dinding berlapis ini juga cukup mudah.
Pemilik rumah hanya tinggal melapisi ulang bagian-bagian yang mengelupas.
Di samping dinding rumah makin kokoh, penggunaan lumpur rupanya menyimpan khazanah ilmu tentang pengendalian temperatur.
Anis menyebutkan, lapisan tanah di kedua muka dinding membuat suhu makin terkendali.
Ia membuat suhu di dalam rumah tetap sejuk saat musim panas.
Sifat alami tanah menangkal hawa panas itu dan menyebarkan hawa dingin di dalam.
’’Tapi, kalau di luar panas, dalam rumah tidak panas karena sifat tanah seperti itu,’’ beber pengacara senior di Mojokerto ini.
Pengetahuan ini dapat dipahami dengan munculnya genting berbahan tanah.
Selain kuat, atap bangunan yang diproses dengan cara pembakaran tanah itu membuat hawa rumah terjaga.
Baca Juga: Sejarah Majapahit, Tokoh Penasihat Tertua Era Ratu Kencana Wungu, Sabdo Palon dan Noyo Genggong
Tak seperti bahan-bahan atap bangunan bermaterial seng atau asbes sekarang yang cenderung menimbulkan suhu panas.
Editor : Moch. Chariris