Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kemilau Emas di Zaman Majapahit, Jadi Simbol Kemewahan dan Status Bangsawan

Yulianto Adi Nugroho • Rabu, 6 Maret 2024 | 02:15 WIB

 

ARTEFAK: Cetakan emas koleksi Museum D’topeng menjadi bukti proses peleburan logam mulia emas di zaman Majapahit. (foto: dok kemendikbud)
ARTEFAK: Cetakan emas koleksi Museum D’topeng menjadi bukti proses peleburan logam mulia emas di zaman Majapahit. (foto: dok kemendikbud)

RADARMAJAPAHIT - Emas menjadi tanda kemewahan di zaman Majapahit. Logam mulia itu diceritakan menghiasi kereta Raja Hayam Wuruk.

Pun demikian dengan aksesori pada pakaian dan perhiasan serbaemas yang dipakai para bangsawan.

BERHARGA: Koleksi logam hingga lempengan emas era Mataram kuno hingga Kerajaan Majapahit yang pernah ditemukan Balai Pelestarian Budaya (BPK) Wilayah IX Jatim dalam ekskavasi sejak 1997 silam.
BERHARGA: Koleksi logam hingga lempengan emas era Mataram kuno hingga Kerajaan Majapahit yang pernah ditemukan Balai Pelestarian Budaya (BPK) Wilayah IX Jatim dalam ekskavasi sejak 1997 silam.

Emas telah dianggap sebagai barang berharga sejak puluhan ribu tahun sebelum Masehi.

Karena ketahanannya yang luar biasa, logam mulia ini menjadi standar mata uang hingga simbol kemewahan.

Kelak, bahan emas banyak diproduksi sebagai aksesori perhiasan selama berabad-abad, termasuk pada masa eksistensi Majapahit 700 tahun silam.

”Di museum banyak ditemukan benda-benda berbahan emas yang berkaitan dengan Majapahit,” ujar Budayawan Mojokerto Putut Nugroho.

Dalam karyanya, Empu Prapanca juga menyebutkan dalam sebuah jamuan besar kerajaan, semua peralatan pesta berbahan emas, termasuk kotak sirih pinang.

Emas, di zaman itu, juga dipakai sebagai penanda keistimewaan pada hulu keris dan perisai yang dihadiahkan kepada kesatria terpilih.

Lekatnya simbol kemakmuran dengan emas tak lepas dari hubungan Majapahit dan China.

Pesatnya aktivitas perdagangan membuat keberadaan emas makin mudah ditemui.

”Pada akhirnya kalangan bangsawan pun menggunakan perhiasan emas,” tuturnya.

Dalam sejumlah literatur, peleburan emas tak berbeda jauh dengan proses metalurgi logam di zaman itu.

Pembakaran dengan suhu tinggi dilakukan untuk menghasilkan bentuk-bentuk dengan detail yang sangat rapi.

Proses pembakaran ini memanfaatkan terakota berbahan tanah liat semacam cawan bernama kowi.

 Baca Juga: Tugu Gumeng, Mengenang Perjuangan Tentara Indonesia Melawan Belanda di Lereng Pegunungan Anjasmoro

Editor : Moch. Chariris
#logam #emas #majapahit