RADARMAJAPAHIT - Distribusi hasil pertanian yang lancar memengaruhi keberhasilan pertanian pada era Kerajaan Majapahit.
Di samping memanfaatkan akses darat, jalur sungai turut mendukung kegiatan perdagangan.
Penyediaan prasarana yang memadai segaris dengan hasil panen yang melimpah.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jawa Timur Edi Triharyantoro menjelaskan, selain sebagai sumber pangan utama masyarakat Jawa kuno, beras menjadi komoditas perdagangan regional maupun interregional.
”Hasil panen padi yang surplus satu garis dengan pemakaian teknologi yang sudah bagus,” ujarnya.
Teknologi itu antara lain pembangunan dam atau bendungan yang banyak menyuplai persawahan.
Bendungan itu juga berguna untuk mengantisipasi banjir yang dapat merusak tanaman.
”Majapahit ini ahli dalam manajemen air,” imbuh Penasihat Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Timur tersebut.
Majunya kegiatan ekonomi pertanian itu juga bergantung kepada akses distribusi yang memadai, baik di darat maupun sungai.
Memang, tak hanya mengandalkan jalur darat dengan kereta-kereta pedati, masyarakat Majapahit mengangkut hasil pertanian dan barang dagangannya dengan perahu.
Mereka melintasi aliran Sungai Brantas yang mengelilingi area pusat kerajaan.
Transportasi air itu tersambung dermaga-dermaga kecil di pintu-pintu masuk inti kerajaan.
Di sana, perahu-perahu pengumpan membawa hasil pertaniannya melewati kanal.
Peran sentral sungai dalam aktivitas perekonomian ini, lanjut Edi, turut menjadi alasan kerajaan membangun bendungan.
Tujuannya, ketika terjadi banjir, sungai tak meluap sehingga tetap bisa dilewati.
Editor : Moch. Chariris