RADARMAJAPAHIT – Dusun Ketanen, Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto menyimpan sebuah situs cagar budaya diperkirakan peninggalan era Majapahit.
Misalnya, Situs Kemasantengah. Tempat tersebut dianggap sakral oleh khalayak umum.
Situs ini belum banyak diketahui wisatawan. Mahmudi, Kepala Dusun Ketanen menjelaskan, akses menuju situs terbilang cukup rumit.
Sebab, hanya dapat diakses dengan berjalan kaki hingga melewati tepian sungai. Serta lahan perkebunan warga.
"Akses menuju Situs Kemasantani berupa jalan setapak. Jadi, wisatawan yang ingin berkunjung harus berjalan kaki dengan berhati-hati melewati jalan sawah yang licin sekitar 100 meter," ujar pria 58 tahun ini, Selasa (20/2).
Selain itu, situs ini diyakini sebagai peninggalan era Majapahit. Di tempat ini terdapat sejumlah benda purbakala yang tersusun rapi.
Di antaranya, batu kuno berukir relief, batu andesit berbentuk umpak, fragmen guci dan batu bata kuno.
Serta, tiga Pohon Kamboja berukuran besar. Namun, satu di antaranya telah tumbang.
"Ya, Situs Kemasantani ini diperkirakan seperti runtuhan candi di era Majapahit. Karena banyak ditemukan batu bata kuno berserakan," tuturnya.
Mahmudi mengungkapkan, Situs Kemasantani ini pernah diinventarisasi dan konservasi Balai Pelestarian dan Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim.
Hal tersebut bertujuan untuk menjaga dan melestarikan cagar budaya peradaban di masa lampau.
"Sepengetahuan saya, kunjungan wisatawan di situs tersebut cenderung sepi. Pasalnya, lokasi situs berada di tengah perkebunan milik warga, dan tentunya jauh dari keramaian kota," paparnya.
Sebelumnya, Mahmudi menceritakan, dahulu beberapa benda kuno kerap dicuri hingga vandalisme oleh oknum tak bertanggung jawab.
Tak jarang warga umum menyebut situs ini dengan sebutan Balai Kambang. Sebelum adanya inventarisasi dari pihak terkait.
"Warga desa setempat menganggap adanya nilai sakral di situs itu. Sehingga, jarang ada yang berkunjung ke sana," tandasnya. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris