Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sendang Made, Tempat Pertapaan Prabu Airlangga Bersama Tokoh Kerajaan Mataram Kuno

Moch. Chariris • Selasa, 13 Februari 2024 | 03:09 WIB

 

JERNIH: Sumber mata air Sendang Made di Dusun/Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. (foto: Moch. Khasib for Radar Majapahit)
JERNIH: Sumber mata air Sendang Made di Dusun/Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. (foto: Moch. Khasib for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIIT – Dusun/Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang menyimpan tempat bersejarah sebagai bukti peninggalan Prabu Airlangga.

Salah satunya, Sendang Made. Dulunya sendang itu diduga tempat pertapaan Prabu Airlangga bersama tokoh Kerajaan Mataram Kuno.

RIMBUN: Suasana teduh pepohonan Sendang Made di Dusun/Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. (foto: Moch Khasib for Radar Majapahit)
RIMBUN: Suasana teduh pepohonan Sendang Made di Dusun/Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. (foto: Moch Khasib for Radar Majapahit)

Juru pelihara (jupel) Sendang Made, Supono menjelaskan, Sendang Made terdiri dari tujuh sumber mata air yang terletak di lereng Gunung Pucangan.

Konon, ceritanya, tempat ini merupakan tempat pelarian hingga pertapaan Prabu Airlangga bersama sejumlah tokoh kerajaan.

Menyusul sejumlah penemuan yang diduga berkaitan dengan Sendang Made.

”Ditemukan sebuah batu andesit bertuliskan angka tahun Jawa kuno. Serta, sejarah yang tertulis pada Prasasti Pucangan,” ujar pria 64 tahun ini, Selasa (6/2).

Supono mengungkapkan, berdasarkan isi Prasasti Pucangan, dahulu terjadi peristiwa pemberontakan Raja Wurawari, penguasa kerajaan kecil bawahan Mataram Kuno.

Raja tersebut berasal dari Lwaram, diperkirakan di area Ngloram, Cepu, Blora. Diketahui, Raja Wurawari bersekutu dengan Sriwijaya.

Di saat itu berlangsungnya pernikahan Airlangga berusia 16 tahun menikah dengan Galuh Sekar, putri Raja Dharmawangsa Teguh.

Raja Dharmawangsa Teguh merupakan paman Airlangga, sekaligus penguasa terakhir Kerajaan Mataram Kuno berpusat di Watan.

Kerajaan itu diperkirakan area Maospati, Magetan, Jawa Timur.

Sedangkan Airlangga merupakan putra Raja Udayana dan Mahendradatta. Ayahnya Raja Udayana adalah Raja Bedahulu di Gianyar, Bali dari Wangsa Warmadewa.

Ibunya Mahendradatta merupakan putri Raja Sri Makutawangsawardhana, penguasa Kerajaan Medang periode Jatim dari Wangsa Isyana.

Makutawangsawardhana merupakan cucu Empu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang periode Jatim, pada tahun 929 hingga 947 masehi.

”Terjadi perang besar di saat pernikahan Airlangga. Diperkirakan Raja Dharmawangsa Teguh beserta kerajaanya dibakar sampai habis dan rajanya meninggal dunia,” tuturnya.

Kemudian, Airlangga dan istrinya berhasil kabur beserta sejumlah tokoh kerajaan.

Seperti, Empu Narotama, beberapa dayang istana dan prajurit. Rombongan mereka sempat bersembunyi di beberapa hutan pegunungan.

Seperti, Gunung Wilis, Maskumambang dan Gunung Klotok di Kediri.

”Mereka pernah singgah sebentar di sejumlah hutan di pegunungan Jawa Tengah. Kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga di lereng Gunung Pucangan. Di situlah mereka diperkirakan menetap selama tiga tahun,” paparnya.

Supono menambahkan, di tempat tersebut, Airlangga menyamar sebagai Mbah Joyo, sosok pria sederhana.

Tak hanya itu, dia juga membuat sebuah prasasti di salah satu sendang. Sendang tersebut dinamakan Sendang Darma. Kini, namanya berubah menjadi Sendang Drajat.

Selain itu, dia juga menimba ilmu dan bertapa dari gurunya, Mbah Jenggot. Setelah menetap sekitar tiga tahun dan dirasa telah mendapatkan ilmu yang cukup, Airlangga menyusun strategi dan kekuatan.

Hal tersebut bertujuan untuk merebut kembali kerajaan milik sang paman dari musuh, untuk kemudian dijadikan Kerajaan Kahuripan.

”Airlangga berhasil menaklukan musuhnya. Kemudian, dia naik tahta pada tahun 1019 hingga 1043 Masehi,” imbuhnya.

Belakangan, terdapat sejumlah petilasan di Sendang Made. Di antaranya, petilasan penjaga pintu masuk kerajaan Eyang Joyodilengkung, petilasan Airlangga dan istrinya, prajurit Joko Tungkul.

Serta, petilasan lima dayang kerajaan. Seperti Ayu Sekar Melati, Sengkleh, Kenanga, Gading dan Klebat.

”Siapa pun bisa berkunjung ke Sendang Made tanpa dipungut biaya. Biasanya, pengunjung ada yang ingin bersemadi hingga sekadar pengenalan sejarah saja,” pungkasnya. (moch. khasib)

Editor : Moch. Chariris
#sendang made #jombang #kerajaan abad ke-11 #mataram