Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kerajaan Membuka Lahan Persawahan hingga Mengangkat Pejabat Pertanian

Yulianto Adi Nugroho • Selasa, 13 Februari 2024 | 02:11 WIB

 

 

DATA ARKEOLOGIS: Aktivitas bertani dan panen hasil bumi termasuk padi tergambarkan di relief Candi Borobudur. (foto: dok kemendikbud)
DATA ARKEOLOGIS: Aktivitas bertani dan panen hasil bumi termasuk padi tergambarkan di relief Candi Borobudur. (foto: dok kemendikbud)

RADARMAJAPAHIT - DI samping faktor tanah yang subur di antara sungai dan gunung dengan didukung sistem irigasi teratur.

Kerajaan Majapahit pun mampu menerapkan kebijakaan yang pro-petani.

Dari pembatasi kekuasaan tanah, membuka hutan untuk sawah, hingga mengangkat pejabat-pejabat pertanian.

PENOPANG EKONOMI: Petani di Kabupaten Mojokerto sedang panen padi. Sejak zaman Majapahit, padi menjadi komoditas utama pertanian masyatakat. (foto: Sofan Kurniawan)
PENOPANG EKONOMI: Petani di Kabupaten Mojokerto sedang panen padi. Sejak zaman Majapahit, padi menjadi komoditas utama pertanian masyatakat. (foto: Sofan Kurniawan)

Cara itu telah mendorong iklim pertanian masa Majapahit berkembang kian pesat.

Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca mengisahkan hal itu.

Dalam pupuh 88 dikisahkan, petinggi kerajaan meminta agar rakyat selalu memperhatikan kesuburan sawah, serta memelihara jalan, jembatan, dan berbagai macam tanaman.

Dalam pertemuan agung itu, Raja Hayam Wuruk dan Wengker meminta agar pejabat pertanian mengambil langkah-langkah untuk menghalangi tuan rumah tanah yang rakus.

’’Sebab, dalam kitab itu disebutkan, kalau dibiarkan penduduk desa akan terusir dan mengungsi ke desa tetangga,’’ jelas Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim Edi Triharyantoro.

Maklumat ini sekaligus menegaskan perhatian kerajaan terhadap sektor pertanian.

Melalui undang-undang, kerajaan juga memerintahkan agar kaum Waisya pandai menyebar benih dan memahami perbedaan tanah yang subur dan gersang.

Demikian pula ditekankan dalam hal perdagangan. Pemerintah menjabarkan agar digunakan timbangan, cara menyimpan barang, dan pengaturan tentang jual dan beli.

Seperangkat kemampuan yang ditekankan kepada masyarakat petani ini tergambar dalam kitab Kutara Mawana.

Usaha Majapahit dalam menjaga produksi pertanian tak hanya soal mempertahankan, melainkan juga memperluas area penanaman.

Dalam Negarakertagama, raja pernah memerintahkan untuk dibuka lahan di hutan Wotsari, Sagala, Surabhana, Pasuruan, dan Pajang.

Dengan pembukaan lahan ini, masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki tanah akhirnya bisa bercocok tanam.

Berbagai kebijakan pemerintah Majapahit dalam menciptakan iklim yang mengangkat kemajuan pertanian ini menjadi faktor keberhasilan sektor agraris.

Di samping kebijakan kerajaan dalam membangun sarana fisik dan sosial seperti infrastrukur waduk-waduk.

 

 

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #petani #sawah #kerajaan