Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kesuburan Tanah dan Kelihaian Bertani Jadi Kunci Kedigdayaan Pertanian Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Selasa, 13 Februari 2024 | 02:02 WIB
DATA ARKEOLOGIS: Aktivitas bertani dan panen hasil bumi termasuk padi tergambarkan di relief Candi Borobudur. (ilustrasi)
DATA ARKEOLOGIS: Aktivitas bertani dan panen hasil bumi termasuk padi tergambarkan di relief Candi Borobudur. (ilustrasi)

RADARMAJAPAHIT - Sektor pertanian mengalami kemajuan pesat pada zaman kerajaan Majapahit.

Melimpahnya produksi beras dan hasil panen lainnya menjadi penopang perekonomian saat itu.

Hal ini didukung kondisi tanah yang subuh dengan sistem irigasi dan kecakapan bertani yang mumpuni.

PENOPANG EKONOMI: Petani di Kabupaten Mojokerto sedang panen padi. Sejak zaman Majapahit, padi menjadi komoditas utama pertanian masyatakat. (foto: Sofan Kurniawan)
PENOPANG EKONOMI: Petani di Kabupaten Mojokerto sedang panen padi. Sejak zaman Majapahit, padi menjadi komoditas utama pertanian masyatakat. (foto: Sofan Kurniawan)

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim Edi Triharyantoro menceritakan, Majapahit mengalami puncak perkembangan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 Masehi) dan Mahapatih Gajah Mada.

Kedigdayaan ini ditopang dua hal penting. Yakni, sektor agraria dan maritim. Keduanya mengalami kemajuan dan saling mempengaruhi.

Hasil pertanian yang melimpah telah mengundang saudagar-saudagar besar dari berbagai belahan dunia untuk berlayar ke Nusantara.

’’Pertanian adalah penyangga utama kehidupan perekonomian pada masa Majapahit,’’ kata warga Jalan Raya Ijen, Kota Mojokerto, tersebut.

Edi menuturkan, kemajuan pertanian era Majapahit merupakan gabungan faktor alam dan teknis.

Letak kerajaan yang dikelilingi gunung-gunung berapi dan lembah-lembah sungai, membuat tanahnya subur.

Kitab Negarakertagama mengisahkan pertanian dengan komoditas utama padi adalah tulang punggung masyarakat Majapahit.

Oleh sebab itu, hanya sawah yang dapat menjamin persediaan pangan secara teratur.

Di ibu kota Majapahit, Wilwatikta, yang diasumsikan di Trowulan, Mojokerto, sistem irigasi yang canggih dan terintegrasi.

Berbagai data arkeologis berupa prasasti, relief, historiografi, termasuk penelitian yang dilakukan Maclaint Pont telah mengidentifikasi tidak kurang dari 20 waduk di sekitaran pusat kerajaan.

Enam waduk di antaranya terdapat di area inti. Begitu pula dengan kolam-kolam buatan.

’’Beragam bentuk bendungan air ini menjadi jaringan sumber pengairan pertanian yang dialirkan ke sawah-sawah melalui sistem irigasi,’’ imbuh mantan kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Samarinda itu.

Kombinasi ini telah mendorong peningkatan produksi padi. Edi menyebut, masyarakat Majapahit dikenal mampu panen sampai dua kali selama setahun.

Melimpahnya hasil pertanian membuat kawasan ini mengalami surplus beras.

Majunya sektor pertanian, tak hanya padi namun juga kapas hingga buah-buahan, telah mengundang pedagang-pedagang dari daratan asia dan Eropa.

Geliat ekonomi pun hidup dengan masifnya aktivitas perdagangan.

Aktivitas pertanian Majapahit, lanjut dia, telah menggunakan teknologi yang sama dengan zaman sekarang. 

Alat-alat tradisional seperti cangkup, garu, pembajak sawah, hingga ani-ani dan lumpang telah diterapkan.

’’Masyarakat zaman itu juga memiliki perhitungan menyesuaikan musim dengan jenis tanaman sampai cara-cara menangani hama,’’ beber pria 69 tahun ini.

Kecakapan ini membuat petani jarang sekali dilanda gagal panen. Pertanian juga dijalankan secara berkelanjutan, tak hanya padi.

Cara itu menjadikan tingkat kesuburan tanah terus terjaga dan tidak gersang.

Pun demikian dengan penggunaan pupuk-pupuk penyubur berbahan alami dari tanaman yang tidak merusak unsur hara tanah.

Editor : Moch. Chariris
#padi #majapahit #pertanian