RADARMAJAPAHIT - Segala peranti penunjang aktivitas masyarakat Majapahit yang eksis sebelum abad ke-15 serbamanual.
Seperti moda transportasi hingga pertanian yang banyak memanfaatkan tenaga hewan. Umum bila keberadaan gajah, kuda, kerbau, dan sapi lekat lekat sebagai kereta tunggangan.
Masa peralihan hidup manusia dari tradisional ke modern ditandai dengan munculnya revolusi industri.
Penemuan teknologi mesin uap pada abad ke-18 menjadi gejala kemajuan segi manufaktur dan transportasi.
Berkembangnya mesin diesel seabad kemudian lantas menandai munculnya moda gerak otomatis yang kelak kian canggih.
Transformasi itu sekaligus meninggalkan transportasi manual dari periode sebelumnya, termasuk di zaman Kerajaan Majapahit yang berkembang pada abad ke-13 sampai 15.
Pada era kejayaan Nusantara itu, mobilitas banyak ditunjang oleh tenaga hewan dan manusia. Kereta-kereta manual yang terbuat dari kayu dan logam ditarik dengan kuda, kerbau, dan sapi.
’’Hewan-hewan ini diternak dan terlibat aktivitas sehari-hari dengan pemiliknya,’’ ujar Budayawan Mojokerto Putut Nugroho.
Penggunaan hewan itu disesuaikan dengan penunggang dan fungsinya. Untuk gajah misalnya, hanya raja yang mengunakannya ketika keliling daerah kekuasaannya.
Hal ini juga diungkap dalam historiografi Negarakertagama.
Dikisahkan, dalam sebuah perjalanan rombongan kerajaan dari ibu kota di Trowulan ke Lumajang pada 1359 Masehi yang diikuti si pengarang Mpu Prapanca, Raja Hayam Wuruk menaiki gajah dengan pasukan berkuda.
Di belakangnya terdapat iring-iringan ratusan kereta pedati yang membawa beragam barang persediaan.
Perjalanan itu berlangsung selama 10 minggu atau 2,5 bulan dan melewati 210 desa dengan luas cakupan wilayah mencapai 15 ribu mil persegi.
Baca Juga: Sukses! 500 Guru dan Pegawai Antusias Mengikuti Workshop Penulisan Naskah Siaran Pers
Kereta-kereta manual yang ditarik dengan hewan perkasa itu dikonstruksi dengan kuat sehingga mampu menopang beban ratusan kilogram untuk perjalanan jauh dan berbulan-bulan.
Rangka kereta berupa kayu dengan penguat logam dilengkapi roda-roda di kedua sisi. Selain moda kereta hewan, mobilitas kalangan bangsawan juga ditopang dengan tandu yang dipikul pengawal kerajaan.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim Edi Triharyantoro menceritakan, sektor pertanian pada masa Majapahit juga memanfaatkan tenaga hewan. Khususnya sapi dan kerbau.
Dua mamalia itu berguna menarik bajak sawah untuk menggemburkan tanah. ’’Pertanian adalah penyangga utama kehidupan perekomian masyarakat Majapahit,’’ tuturnya.
Di zaman sekarang, cara tradisional ini masih umum ditemui di kawasan perdesaan. Alat manual itu bersanding dengan mesin motor bakar penggembur tanah berupa traktor. Alat ini bekerja secara lebih mekanis dan memiliki skala besar.
’’Kalau di zaman Majapahit ada teknik amaluku atau membajak dengan alat garu yang ditarik sapi dan lembu. Hasil pertanian padi saat itu sangat melimpah hingga hasil panennya surplus,’’ jelas warga Jalan Raya Ijen, Kota Mojokerto, yang pernah menjabat kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPK) Samarinda itu.
Editor : Moch. Chariris