RADARMAJAPAHIT – Candi Pari di Dusun Candipari Kulon, Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo merupakan sebuah bangunan suci umat Hindu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Menyusul, terdapat sejumlah kotak peripih hingga sejumlah arca yang kondisinya tak lagi utuh.
”Dulunya candi ini dibangun untuk mengenang jasa Jaka Pandelegan. Kemudian, candi ini difungsikan menjadi bangunan suci agama Hindu di era Prabu Hayam Wuruk, yang berkuasa pada 1350-1389 Masehi,” ujar Muhammad Saroni, juru pelihara (jupel) Candi Pari, Selasa (31/1).
Pembangunan arsitektur Candi Pari ini dipengaruhi gaya arsitektur candi di Campa. Dikarenakan, ketika pembangunan candi tak luput dari bantuan pengungsi Campa, akibat perang saudara.
Hal itu, dilatarbelakangi atas dasar ucapan terima kasih kepada Majapahit yang telah memberikan tempat tinggal di sekitar Candi Pari.
Kitab Negarakertagama turut menggambarkan, hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan Campa terjalin cukup dekat.
”Candi Pari itu berbentuk bangunan bersegi empat yang terbuat dari batu bata dan sebuah pintu yang menghadap ke arah barat. Arsitekturnya hampir mirip dengan atap candi yang ditemukan di Kamboja dan Vietnam di era Kerajaan Campa,” tuturnya.
Balai Pelestarian dan Kebudayan (BPK) Wilayah XI jatim menjelaskan, Candi Pari ditemukan pada tanggal 16 Oktober 1906 pada masa kolonial Belanda.
Bangunan candi berupa persegi empat yang tersusun dari batu bata menghadap ke barat. Kemudian, di sisi atas gerbang terbuat dari batu andesit. Candi ini terdiri dari tiga bagian.
Di antaranya, struktur kaki, badan hingga atap candi. Struktur kaki berdenah empat persegi dengan ukuran panjang 13,55 meter, lebar 13,40 meter, dan tinggi 1,50 meter.
Badan candi berbentuk persegi empat dengan panjang dan lebar 7,80 meter, serta tinggi 6,30 meter. Pintu masuk berbentuk segi empat dengan panjang 2,90 meter, lebar 1,23 meter dan tebal 1 meter.
Selain itu, terdapat tujuah penguat pintu yang terbuat dari batu andesit dan ukiran angka tahun 1293 saka atau 1371 Masehi.
Bagian atap Atap candi sebagian besar telah runtuh, namun terdapat sisa atap dengan panjang dan lebar 7,80 meter dan tinggi 4,50 meter dengan hiasan berupa sejumlah menara panjal.
”Candi ini sudah berdiri dalam keadaan utuh tanpa proses ekskavasi. Kemudian dilakukan pemugaran pada tahun 1994 hingga 1999 oleh Kanwil Depdikbud dan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur,” ungkapnya.
Selain itu, di areal candi terdapat struktur gapura yang menjadi bukti sejarah peradaban terdahulu. Bukti tersebut menjadi dugaan kuat Candi Pari dan Candi Sumur berada dalam satu kompleks.
”Di sisi selatan bagian depan candi terdapat bata kuno runtuhan gapura. Jika digali sedalam 20 sentimeter, ada bekas jalan yang mengarah ke Candi Sumur yang menjadi bukti kuat sebagai satu lokasi,” imbuhnya.
Meski demikian, struktur tersebut tetap dikubur untuk menjaga keamanan kondisinya. Belakangan, Candi Pari ini kerap dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Seperti dari Malaysia, Singapura, Jepang, hingga Inggris. Baik sekadar penelitian maupun pengenalan sejarah dan kebudayaan.
”Harapannya, peninggalan sejarah, khususnya candi, untuk dilestarikan supaya menjadi bukti sejarah peradaban masa lampau di masa depan,” tandasnya. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris