Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Candi Sumur, Bentuk Persembahan Kerajaan Majapahit terhadap Jasa Nyi Roro Walang Angin

Moch. Chariris • Rabu, 31 Januari 2024 | 04:57 WIB
WISATA SEJARAH: Pengunjung melihat bangunan Candi Sumur di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Reza Firman for Radar Majapahit)
WISATA SEJARAH: Pengunjung melihat bangunan Candi Sumur di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Reza Firman for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Candi Sumur di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.

Candi ini diyakini salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit di daerah Sidoarjo. Berbeda dengan kebanyakan candi di Mojokerto yang ditemukan melalui proses ekskavasi.

Candi Sumur sudah berdiri dalam bentuk utuh dan ditemukan tanpa proses ekskavasi. Diperkirakan, Candi Sumur ini dibangun pada tahun 1371 Masehi.

TAK BERFUNGSI: Pengunjung melihat kondisi sumur di area Candi Sumur, di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Reza Firman for Radar Majapahit)
TAK BERFUNGSI: Pengunjung melihat kondisi sumur di area Candi Sumur, di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Reza Firman for Radar Majapahit)

”Jadi Candi Sumur ini memang berdiri di era Kerajaan Majapahit, tahun pembangunannya juga sama dengan Candi Pari,” ungkap Ruspandi, juru pelihara Candi Sumur, Selasa (30/1).

Letak Candi Sumur kurang lebih berjarak 150 meter dari Candi Pari. Nama Candi Sumur berasal dari temuan sumur di tengah bangunan candi yang kini kondisinya mengering.

Bangunan Candi Sumur tersusun dari batu bata merah yang di antaranya mulai lapuk.

”Dulu sebelum candi didirikan, di tempat ini memang sudah ada sumurnya, tetapi hanya berupa sumur biasa,” tambahnya.

Ruspandi menjelaskan, berdirinya Candi Sumur tidak lepas dari sejarah Candi Pari.

Cerita yang beredar, konon Candi Sumur dan Candi Pari sengaja dibangun untuk mengenang kisah suami istri, yang berjasa kapada Kerajaan Majapahit.

Kala itu kerajaan pada era Raja Hayam Wuruk tengah mengalami paceklik. Dua pasangan suami istri, Joko Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin, serta Joko Walang Tinunu dan istrinya, Nyai Roro Walang Sangit.

Mereka menjadi penolong Kerajaan Majapahit dari ancaman kelaparan. Atas jasa tersebut, keduanya lantas diangkat menjadi bagian dari Kerajaan.

Namun, lanjut Ruspandi, Joko Pandelegan dan istrinya menolak. Pada akhirnya, Joko pandelangan moksa di Candi Pari, dan istrinya Nyai Roro Walang Angin moksa di Candi Sumur.

”Didirikannya Candi Sumur untuk mengenang Nyai Roro Walang Angin dan Candi Pari dibangun untuk mengenang Joko Pandelegan,” ujarnya.

Saat ini, kondisi sumur sudah kering dan konstruksinya tidak utuh lagi. Yang tersisa sebatas bagian dinding sisi timur dan selatan. Oleh warga kemudian disangga menggunakan balok kayu.

Ukuran Candi Sumur lebih kecil dari Candi Pari. Bangunan Candi sumur menghadap ke arah barat dengan susunan anak tangga yang curam.

Candi Sumur pernah dua kali dilakukan pemugaran. Masing-masing tahun 1999 dan tahun 2003. Kini, kedalaman sumur yang tersisa hanya sekitar 2,5 meter.

”Awalnya, kedalaman sumur hampir 9 meter, tetapi dikubur kembali karena alasan keselamatan,” tuturnya.

Pengunjung Candi Sumur datang dari dalam negeri hingga mancanegara. Seperti Mojokerto, Sidoarjo, Bali, hingga Malaysia, Singapura, Jepang dan Inggris.

”Yang sering datang untuk berkunjung itu dari kalangan pelajar maupun mahasiswa,” pungkasnya. (nadya azzahra)

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #sumur #sidoarjo #candi