Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Candi Pari, Dibangun ketika Majapahit Alami Paceklik, Diyakini Tempat Moksanya Jaka Pandelegan

Moch. Chariris • Rabu, 31 Januari 2024 | 04:36 WIB

 

BERJAYA: Candi Pari di Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, menjadi bukti sejarah kemakmuran hasil panen padi era Kerajaan Majapahit. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
BERJAYA: Candi Pari di Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, menjadi bukti sejarah kemakmuran hasil panen padi era Kerajaan Majapahit. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Dusun Candipari Kulon, Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo menyimpan objek bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit.

Seperti Candi Pari. Candi berada di tengah pemukiman penduduk ini ramai dikunjungi wisatawan. Diyakini sebagai tempat beribadah umat Hindu terdahulu.

BUDAYA: Sejumlah wisatawan sedang mengamati dan pengenalan Sejarah Candi Pari di Dusun Candipari Kulon, Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
BUDAYA: Sejumlah wisatawan sedang mengamati dan pengenalan Sejarah Candi Pari di Dusun Candipari Kulon, Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

Juru pelihara (jupel) Candi Pari, Muhammad Saroni mengungkapkan, objek sejarah tersebut merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit era Prabu Hayam Wuruk.

Namun, arsitektur bangunan candi ini terbilang unik. Pasalnya, bentuk bangunan tersebut tidak menunjukan ciri khas bangunan Majapahit pada umumnya.

Sebab, pembangunan arsitektur candi pari ini terpengaruh dengan gaya arsitektur candi di Campa.

”Terdapat sebuah ukiran angka 1293 Saka atau 1371 Masehi. Tahun tersebut menunjukkan candi ini dibangun pada era Prabu Hayam Wuruk, di abad ke-14,” ujar pria 51 tahun itu, Selasa (30/1).

Dia menceritakan, penamaan candi tersebut diambil dari kata pari atau padi. Menyusul, candi tersebut dibangun untuk mengenang jasa dua pasang suami istri.

Mereka bernama Jaka Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin, serta Joko Tinunu dan istrinya, Nyai Roro Walang Sangit. Ketika Kerajaan Majapahit sedang mengalami gagal panen atau paceklik.

”Joko Tinunu dan istrinya menerima tawaran Majapahit untuk tinggal di kerajaan. Namun, Jaka Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin menolak tawaran tersebut, karena mereka ingin mempertahankan desanya sebagai tempat penghasil padi Kerajaan Majapahit,” imbuh dia.

Kendati demikian, prajurit Majapahit mendapatkan perintah dari Prabu Hayam Wuruk untuk terakhir kalinya memberikan tawaran kepada Jaka Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin.

Namun, mereka tetap bersikeras menolak tawaran tersebut. ”Saat ditawari prajurit Majapahit, Jaka Pandelegan minta izin untuk memasuki sebuah lumbung padinya. Sedangkan Nyai Roro Walang Angin meminta izin untuk mengambil air di sumur. Setelah diberi kesempatan, keduanya moksa atau menghilang,” papar Saroni.

Dia mengatakan, semenjak hilangnya Jaka Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin di tempat tersebut.

Maka, Prabu Hayam Wuruk memerintahkan pasukannya untuk membangunkan candi untuk mengenang jasa dan menghilangnya mereka. Candi tersebut bernama Candi Pari dan Candi Sumur.

”Candi Pari dan Candi Sumur dibangun era Prabu Hayam Wuruk, jarak keduanya sekitar 100 meter. Kemudian difungsikan sebagai tempat beribadah umat Hindu era Majapahit,” jelasnya.

Objek sejarah ini dapat dikunjungi siapa pun tanpa dipungut biaya. Belakangan, tempat ini dilengkapi dengan fasilitas gazebo dan kamar mandi untuk wisatawan.

Tak jarang Candi Pari ini kerap dikunjungi pelajar, wisatawan dari beragam daerah hingga mancanegara. ”Biasanya yang sering berkunjung ke Candi Pari ini para pelajar yang ingin sekadar berfoto hingga pengenalan sejarahnya,” tandas Saroni. (moch. khasib)

 

Editor : Moch. Chariris
#padi #majapahit #candi