Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Candi Dermo di Sidoarjo, Berbentuk Gapura Megah, Pintu Masuk Bangunan Suci Era Majapahit

Moch. Chariris • Rabu, 31 Januari 2024 | 03:46 WIB
PADURAKSA: Pengunjung menuruni anak tangga Candi Dermo, di Dusun Santren, Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
PADURAKSA: Pengunjung menuruni anak tangga Candi Dermo, di Dusun Santren, Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT - Candi Dermo ini berada di Dusun Santren, Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo.

Candi tersebut bertipe gapura paduraksa berbahan dasar batu bata merah dengan memperlihatkan bagian atap yang menyatu.

Diperkirakan Candi Dermo dibangun pada tahun 1353 Masehi. Candi Dermo memiliki dimensi ukuran panjang 10,84 meter, lebar 10,77 meter, dan tinggi 13,15 meter.

TEMUAN ARCA: Pengunjung mengamati temuan Lingga Yoni di area Candi Dermo, di Dusun Santren, Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Nadya Azzahra for Radar Majapahit)
TEMUAN ARCA: Pengunjung mengamati temuan Lingga Yoni di area Candi Dermo, di Dusun Santren, Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. (foto: Nadya Azzahra for Radar Majapahit)

Juru pelihara Candi Dermo, Ahmad Ghozali, 20, menjelaskan masa pembangunan Candi Dermo diperkirakan di bawah kepemimpinan Adi Pati Terung (Raden Kusen). Pada saat kepemimpinan Raja Hayam Wuruk.

Diyakini, Candi Dermo dibangun sebagai pintu masuk menuju tempat peribadatan umat Hindu pada masa lalu.

Namun, sebelum tuntasnya pembangunan tempat suci, agama Islam masuk di daerah Sidoarjo. Alhasil para penguasa setempat memeluk agama Islam dan membatalkan pembangunan tempat peribadatan tersebut.

”Candi Dermo ini sebenarnya sebuah gapura pintu gerbang menuju bangunan suci. Nama Candi Dermo berasal dari kata darma yang berarti bakti. Diyakini, nama tersebut bermakna sebagai tempat yang digunakan untuk pendarmaan,” ujarnya, Selasa (30/1).

Candi Dermo mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan Belanda, pemugaran kedua dilakukan BPK wilayah XI Jatim tahun 2014 hingga 2020.

”Awal kondisi bangunan Candi Dermo masih terbilang kurang sempurna. Terdapat penambahan dan pembenahan bangunan candi oleh pihak Belanda dan BPK wilayah XI Jatim. Seperti atap pintu masuk candi yang diubah menggunakan batu bata merah kecil, pembenahan sejumlah dinding candi, dan sejumlah anak tangga” ungkapnya.

Selain itu, di sekitar area candi ditemukan cikal bakal Lingga Yoni dan dua buah arca. Yaitu, arca kalamakala dan arca manusia bersayap.

”Di Candi Dermo ini juga ditemukan Lingga Yoni yang sekarang diletakkan di depan sebelah  selatan candi. Untuk arca kalamakala dan arca manusia bersayap diletakkan di Museum Majapahit Trowulan,” jelasnya.

Di sekitar area Candi Dermo di kelilingi taman dan pagar besi. Pengunjung dengan mudah mengakses lokasi candi. Pasalnya, Candi Dermo berada di lingkungan pemukiman warga.

”Objek sejarah ini kerap menjadi jujukan anak sekolah sebagai tempat wisata sejarah. Tapi, ada juga yang datang untuk melakukan sejumlah ritual,” tambah Ghozali.

Candi Dermo dapat dikunjungi warga umum tanpa dipungut biaya. Tak jarang, sejumlah wisatawan lokal hingga mancanegara datang berkunjung.

”Pengunjung yang datang dari dalam negeri hingga luar negeri. Di antaranya, dari Spanyol dan Inggris,” pungkasnya. (putri fadiyah)

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #candi #gapura