Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Lingga Yoni, Penanda Batas Ibu Kota Majapahit, Luasnya Menyentuh 51 Desa di Mojokerto dan Jombang

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 27 Januari 2024 | 03:34 WIB
JEJAK ARKEOLOGIS: Arkeolog Ismail Lutfi menunjukkan angka tahun yang tertera di dinding yoni Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
JEJAK ARKEOLOGIS: Arkeolog Ismail Lutfi menunjukkan angka tahun yang tertera di dinding yoni Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

RADARMAJAPAHIT - Tak hanya megah konstruksinya. Ibu Kota Kerajaan Majapahit juga memiliki luas mencapai 99 kilometer persegi.

Areanya meliputi 51 desa yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. Batas kawasan Wilwatikta ditandai dengan yoni di empat sudut.

TEMPAT SUCI: Arkeolog senior Ismail Lutfi menjelaskan fungsi sumur dan lingga yoni di Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko.
TEMPAT SUCI: Arkeolog senior Ismail Lutfi menjelaskan fungsi sumur dan lingga yoni di Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko.

Peta Ibu Kota Majapahit terkuak pada 2006 silam oleh kerja Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta. Kelompok yang diketuai Anam Anis ini menelisik batas Kota Majapahit melalui referensi dan bukti arkeologis yang ada.

Hasilnya, Wilwatikta terbentang  di enam kecamatan dan dua kabupaten, Mojokerto dan Jombang. ”Kami menemukan adanya empat yoni di empat penjuru yang menjadi batas ibu kota Majapahit,” ungkap Anam Anis.

Pengacara senior di Mojokerto itu menemukan area pusat kerajaan berupa persegi meski tak presisi. Luasnya mencapai 11x9 kilometer persegi.

Di Kabupaten Mojokerto, wilayah ibu kota meliputi 2 desa di Kecamatan Sooko, 5 desa di Jatirejo, dan 13 desa di Trowulan. Sebagian besar lainnya menghampar di Kabupaten Jombang, meliputi 17 desa di Kecamatan Mojoagung, 4 desa di Mojowono, dan 10 desa di Sumobito.

Tapal batas wilayah itu berupa empat yoni. Yakni Yoni Tugu di Desa Badas, Kecamatan Sumobito; Yoni Gambar di Dusun Sedah, Desa Japanan, Mojowarno; Yoni Lebak Jabung di Desa Lebak Jabung, Jatirejo; dan Yoni Klinterejo di Desa Klinterejo, Sooko.

Semua batu bernilai arkeologis itu memiliki kemiripan, yaitu berhias kepala naga raja. Anam Anis mengatakan, penggambaran kawasan ibu kota kerajaan yang eksis 700 tahun silam itu telah dikonfirmasi oleh berbagai ahli.

”Banyak di referensi lain kalau wilayah ini benar dan sudah dijustifikasi oleh banyak pihak,” tandas pria 65 tahun tersebut.

Pakar hukum sekaligus Direktur LPPA Bina Annisa itu menyebut, yoni tapal batas ditempatkan di sisi terluar wilayah ibu kota. Di samping sebagai tanda batas wilayah, keberadaan yoni berfungsi sebagai tempat pemujaan atau ibadah masyarakat zaman itu.

Dari kawasan yang memiliki luas hampir 100 kilometer persegi itu, Trowulan menjadi area inti kerajaan. Areanya digambarkan seluas 5x4  kilometer.

Area itu diyakini yang menjadi tempat kediaman raja dan kerabat sekaligus pusat pemerintahan. Kawasan ini dikelilingi parit dengan tembok-tembok tinggi.

 

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #ibu kota #Lingga Yoni