RADARMAJAPAHIT – Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan menyimpan sebuah sumber mata air bernama Petirtaan Belahan.
Tempat ini dikenal sebagai Sumber Tetek yang menjadi destinasi spiritual dan pengenalan sejarah di lereng Gunung Pawitra atau Gunung Penanggungan sisi timur.
Terdapat dua kolam destinasi petirtaan yang dapat menarik minat kunjungan wisatawan. Di antaranya, kolam untuk anak kecil dan kolam untuk kegiatan ritual.
Juru pelihara (jupel) Petirtaan Belahan, Manu, mengungkapkan, Petirtaan Belahan ini menyimpan sejarah cukup kuat pada era Kerajaan Medang Kahuripan di abad ke-11. Objek sejarah ini dibangun pada era pemerintahan Prabu Airlangga.
Sehingga terdapat pendharmaan Prabu Airlangga dalam perwujudan arca Wisnu yang menunggangi Garuda. Kini, arca tersebut tersimpan di Unit Pengelolaan Informasi Majapahit Trowulan.
”Saat ini arca Wisnu yang menaiki Garuda disimpan di Unit Pengelolaan Informasi Majapahit Trowulan. Supaya, menjaga kondisi dan keamanan benda purbakala tersebut,” ujar pria 52 tahun itu, Selasa (23/1).
Di samping itu, terdapat dua patung yang turut menghiasi Petirtaan Belahan, serta menambah nilai spiritualitas. Di relung sisi selatan terdapat arca Dewi Sri.
Sedangkan di relung sisi utara terdapat arca Dewi Laksmi yang dapat memancurkan sumber mata air dari kedua payudaranya. Namun, saat ini arca Dewi Sri tidak dapat mengeluarkan sumber mata air.
”Dulu, dari tanganya arca Dewi Sri itu dapat mengeluarkan sumber mata air. Namun, saat ini tidak dapat mengeluarkan air, diperkirakan mampet. Sehingga tidak dapat difungsikan kembali,” tutur Manu.
Baca Juga: Wayang Berbahan Kulit Kerbau Karya Warga Trowulan, Diminati Dalang untuk Seni Pementasan
Selain itu, di sisi selatan terdapat Batu Condrosengkolo dengan relief kala menjadi daya tarik tersendiri di petirtaan Belahan.
Manu mengungkapkan, Petirtaan Belahan pernah diekskavasi oleh Balai Pelestarian dan Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim.
Hal tersebut bertujuan untuk mendata ukuran areal petirtaan. ”Petirtaan ini pernah sekali diekskavasi BPK. Namun, belum ada tindakan pemugaran pada petirtaan ini,” tegasnya.
Tempat sejarah peninggalan Kerajaan Medang Kahuripan ini juga disakralkan sejumlah wisatawan. Mereka meyakini jika mengunjungi tempat ini dapat memberikan keberuntungan.
Sehingga wisatawan yang berkunjung ke petirtaan menyempatkan untuk bermeditasi dengan beragam tujuan. ”Kunjungan ramai biasanya pada hari-hari tertentu. Seperti Jumat Legi, Kliwonan, malam satu Sura hingga malam bulan purnama,” katanya.
Tak jarang petirtaan ini kerap dikunjungi wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara. Di antaranya, dari Thailand, Singapura, Inggris, dan Belanda. Petirtaan ini dibuka untuk umum setiap hari tanpa tarif sepeser pun.
”Petirtaan ini dapat dikunjungi siapa pun tanpa dipungut biaya, sebelum dijadikan objek wisata oleh dinas pariwisata,” papar Manu. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris