RADARMAJAPAHIT - Petilasan Ki Ageng Resi Saloko Gading di Dusun/Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, menjadi salah satu petilasan resi di Mojokerto.
Kini, petilasan yang dibangun layaknya makam itu diyakini keramat oleh warga setempat. Cerita yang beredar, sejarah awal ditemukannya petilasan ini berasal dari Makam Mbah Suko, tokoh yang mbabah Desa Seduri.
Terjadi sebuah kejadian ganjil yang terjadi di petilasan tersebut, seiring ditemukannya sebuah punden. ”Dulunya memang kompleks makam, kemudian ditemukan sebuah petilasan. Akhirnya dibangun pada tahun 2017,” kata Faisal Arif, wakil juru kunci petilasan Ki Ageng Saloko Gading, Jumat (19/1).
Faisal menjelaskan, tempat yang kini dikenal sebagai petilasan Ki Ageng Resi Saloko Gading merupakan tempat bertemu atau titik kumpul para tokoh yang berpengaruh dalam Kerajaan Majapahit.
Nama Desa Seduri juga diyakini berasal dari cerita tersebut. Faisal menambahkan, Seduri memiliki arti terakhir. Bermakna, bahwa tempat ini dipercaya sebagai tempat kumpul terakhir bagi resi atau tokoh penasihat kerajaan.
”Kata Seduri itu kata terakhir. Bisa jadi tempat ini memang tempat terakhir bagi beberapa tokoh Majapahit,” imbuhnya.
Petilasan Ki Ageng Resi Saloko Gading saat ini sudah diakui dinas purbakala, karena dianggap cocok dengan kitab Pararaton. Dalam kitab Pararaton disebutkan, tujuh penasihat agung di Kerajaan Majapahit abad 14.
Ki Ageng Resi Saloko Gading menjadi penasihat bidang tata negara dan pertahanan negara, Ki Ageng Resi Jabung penasihat hukum, dan Ki Ageng Resi Gagak Serut penasihat bidang logistik.
Selain itu, ada Ki Ageng Resi Tunggul Manik, Ki Ageng Resi Manting, Ki Ageng Resi Barat Wojo dan Ki Ageng Resi Mayang Koro, penasihat yang ahli di bidang spiritual.
Bangunan yang ada di area petilasan Ki Ageng Resi Saloko Gading bernuansa Majapahitan. Dilengkapi dengan aksen Surya Majapahit dan kain kuning yang melambangkan kemuliaan.
Terdapat pula kegiatan rutin yang dilakukan untuk mengenang leluhur. ”Kuning memang kan lambang kemuliaan. Seperti warna emas,” ungkapnya.
Acara rutin yang dihelat itu, di antaranya gelar macapat di Kamis Kliwon, energi kolocokro dan purnama sidi. Acara purnama sidi dilakukan di malam bulan purnama. ”Ada acara rutin yang dilakukan di sini setiap bulannya,” pungkasnya. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris