Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Petilasan Ki Ageng Saloko Gading, Berdiri Lingga Yoni dan Tujuh Sumur Kuno

Moch. Chariris • Jumat, 19 Januari 2024 | 06:10 WIB
TEMPAT SAKRAL: Pengunjung melihat lingga yoni di depan pendapa Makam Ki Ageng Saloko Gading di Desa Seduri, Kecamatan Mojosari. (foto: Nadya Azzahra for Radar Majapahit)
TEMPAT SAKRAL: Pengunjung melihat lingga yoni di depan pendapa Makam Ki Ageng Saloko Gading di Desa Seduri, Kecamatan Mojosari. (foto: Nadya Azzahra for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Kerajaan Majapahit tidak lepas dari peran orang penting yang andil dalam pemerintahan. Salah satunya, Ki Ageng Saloko Gading.

Dia termasuk dalam tujuh penasihat utama zaman Majapahit pada abad ke 14 atau era Raja Raden Wijaya. Tempat bersejarah yang diyakini berkaitan dengan Ki Ageng Saloko Gading, di Dusun/Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

MENGENANG SEJARAH: Pengunjung mendatangi area makam Ki Ageng Saloko Gading di Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nadya Azzahra for Radar Majapahit)
MENGENANG SEJARAH: Pengunjung mendatangi area makam Ki Ageng Saloko Gading di Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (foto: Nadya Azzahra for Radar Majapahit)

Tempat ini, dulunya diyakini sebagai petilasan atau tempat moksa bukan sebuah makam. Area Ki Ageng Saloko Gading ini berada dalam satu kawasan dengan tempat pemakaman umum (TPU) Seduri.

”Dulunya memang kompleks makam, tetapi ditemukan petilasan kemudian dibangun,” kata Faisal Arif, wakil juru kunci petilasan Ki Ageng Saloko Gading, Kamis (18/1).

Pondasi yang dibangun menyerupai makam, difungsikan untuk penanda. Batu merah yang digunakan, dikumpulkan dari temuan yang berada dalam area ini.

Selain ditemukan batu merah, banyak ditemukan lumpang dengan berbagai bentuk. ”Kalau lumpang dengan ukuran besar untuk menumbuk padi, kalau yang kecil mungkin untuk bumbu atau jamu,” imbuhnya.

Pada pintu masuk utama, terdapat bangunan seperti pendapa yang digunakan untuk menyambut tamu. Dalam area pendapa ini, diletakkan beberapa penemuan lain yang berupa temuan asli maupun titipan peziarah.

Satu sumur berada di dalam pendapa dan beberapa burung perkutut. ”Kalau menyambut tamu itu di sini, biasanya disambung dengan bunyi burung perkutut,” ujarnya.

Sebelum masuk ke area utama petilasan Ki Ageng Saloko Gading, disambut dengan patung Tribuana Tunggadewi yang sengaja diletakkan di area depan gapura.

Terdapat pula arca atau batu yang merupakan temuan, seperti arca Lingga Yoni dan Dewa Shiwa. Pada bagian barat, terdapat ruangan yang dibuat khusus dinamai dengan pesepen.

Ruangan ini digunakan untuk peziarah yang ingin bersemadi atau menyendiri. ”Biasanya yang masuk ke dalam itu tamu khusus untuk menyendiri,” ungkapnya.

Ihsan menjelaskan, di area ini ditemukan tujuh sumur yang tersebar dalam area petilasan Ki Ageng Saloko Gading. Kini, dari tujuh sumur tersebut, hanya empat sumur yang aktif. Sumur utama, berada paling dekat dengan makam.

”Banyak peziarah yang mengambil air sumur, diyakini berkhasiat,” tambahnya. Peziarah makam Ki Ageng Saloko Gading datang dari berbagai wilayah. Misalnya, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, Hingga Bali.

”Peziarah banyak datang saat waktu-waktu tertentu,” pungkasnya. (nadya azzahra)

Editor : Moch. Chariris
#mojosari #majapahit #petilasan