Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah, Perpaduan Kultur Islam dan Jawa

Moch. Chariris • Jumat, 19 Januari 2024 | 05:50 WIB
TAK BIASA: Pengunjung mengamati keunikan dinding pintu masuk Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah di Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari. (foto: Putri Fadiyah for Radar Majapahit)
TAK BIASA: Pengunjung mengamati keunikan dinding pintu masuk Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah di Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari. (foto: Putri Fadiyah for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Masjid atau musala pada umumnya dibangun dengan desain yang indah dan megah. Berbeda dengan Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah. Berada di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, masjid dengan konstruksi bangunan berada di bawah tanah. Dengan menggunakan konsep perpaduan antara kultur Islam dan Jawa.

Masjid yang dibangun pada tahun 1995 tersebut, didirikan oleh Iman Malik. Bahan konstruksi bangunan tersebut, mengunakan material seadanya. Mulai dari batu bata yang dibuat secara manual, pasir dari hasil galian masjid bawah tanah, bambu sebagai penganti kawat, dan semen.

TELUSURI: Pengunjung memasuki pintu masjid bawah tanah, di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari (foto: Putri Fadiyah for Radar Majapahit)
TELUSURI: Pengunjung memasuki pintu masjid bawah tanah, di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari (foto: Putri Fadiyah for Radar Majapahit)

”Masjid ini dibuat bapak saya tanpa menggunakan dana umum. Proses pembangunan masjid ini dibangun dengan bantuan dari para santri dan menggunakan material seadanya,” kata Said, penerus Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah, Kamis (15/1).

Posisi masjid tersebut menghadap ke arah timur. Di sisi selatan dan utara terdapat gapura masuk dengan bangunan bernuansa kuno. Sedangkan masjid bawah tanah berada di sebelah selatan masjid utama.

Pada pintu masuk masing-masing terdapat tulisan Arab dan Jawa. Seperti lafaz Allah, Muhammad, tauhid, nama para malaikat, serta beberapa tulisan berbahasa Jawa lainnya. Selain itu, terdapat gambar sejumlah tokoh pewayangan yang terukir pada dinding pintu masuk masjid. Seperti, tokoh Semar, Anoman, dan Krisna

”Masjid ini menggabungkan dua konsep Islam dan Jawa. Kita hidup di Jawa, jadi jangan sampai meninggalkan kebudayaan Jawa. Dan kita beragama Islam jangan sampai meninggalkan nilai keislaman,” ujarnya.

Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah, berada di kedalaman tujuh hingga sembilan meter. Untuk menuju masjid bawah tanah, pengunjung harus menelusuri lorong-lorong gua. Gua tersebut dinamakan Gua Muhammad, sebagai bentuk penghormatan kenapa Nabi Muhammad SAW.

Said mengungkapkan, masjid bawah tanah di buat dengan tujuan lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Serta dengan tujuan menenangkan diri dari urusan duniawi. ”Masjid utama digunakan untuk salat fardu, salat Jumat berjamaah, dan kegiatan keagamaan lainnya. Untuk masjid bawah tanah digunakan khusus untuk beribadah riyadah,” jelas pria 38 tersebut.

Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah, menyimpan sebuah simbol trisula. Simbol ini bermakna iman, Islam, ihsan. Nama masjid tersebut, juga memiliki makna tertentu. Yaitu, berasal dari kata Wisnu. Manunggal berarti ayo bersatu, dan Rahmatullah berarti supaya mendapat rahmat Allah SWT.

”Makna dari nama masjid, yaitu kalau sudah masuk Islam, ayo bersatu, supaya mendapatkan rahmat dari Yang Maha Kuasa,” imbuh dia. Sebagian besar dinding masjid ditumbuhi tumbuhan liar. Suasana gelap dan lembab dapat dirasakan saat memasuki masjid bawah tanah. Pintu masuk masjid yang rendah, mengharuskan jemaah menunduk saat memasuki masjid.

”Selain untuk salat fardu dan riyadah, Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah juga digunakan untuk mengaji bagi anak-anak sekitar masjid,” pungkasnya. (putri fadiyah)

Editor : Moch. Chariris
#masjid #mojosari #gua