Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Di Balik Relief Candi Kesiman Tengah, Menggambarkan Kisah Samudramanthana

Moch. Chariris • Jumat, 19 Januari 2024 | 05:20 WIB
SPEKTAKULER: Struktur Candi Kesiman Tengah di Desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto menyimpan sejumlah kisah pada reliefnya. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
SPEKTAKULER: Struktur Candi Kesiman Tengah di Desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto menyimpan sejumlah kisah pada reliefnya. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM – Dusun Kesiman, Desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto menyimpan sebuah candi peninggalan Kerajaan Majapahit.

Seperti, Candi Kesiman Tengah. Objek sejarah di tengah areal pesawahan ini jauh dari tempat keramaian. Sehingga jarang diketahui wisatawan.

Juru pelihara (jupel) Candi Kesiman Tengah, Warliyah, mengungkapkan, fungsi candi ini diyakini sebagai tempat beribadah umat Hindu di abad ke-14. Menyusul, sejumlah ukiran relief di setiap sisinya.

MOTIF: Pengunjung mengamati relief dinding Candi Kesiman Tengah, Desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)
MOTIF: Pengunjung mengamati relief dinding Candi Kesiman Tengah, Desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Majapahit)

”Dulunya, candi ini difungsikan sebagai tempat beribadah umat Hindu Majapahit. Bahkan, hingga saat ini, sejumlah wisatawan beragama Hindu masih menghormati tempat ini ketika berkunjung,” ujar wanita 44 tahun itu, Rabu (18/1).

Candi Kesiman Tengah memiliki dimensi berukuran, panjang 1.020 cm, lebar 720 cm, serta tinggi 450 cm. Candi ini terdiri tiga bagian. Di antaranya, kaki candi berbentuk batur, badan candi juga yang tersusun dari bebatuan andesit.

Serta, susunan atap candi yang belum dapat ditemukan hingga saat ini. ”Struktur kaki candi ini masih relatif utuh, serta terdapat dua tangga naik di kedua sisinya,” tuturnya.

Candi ini memiliki arsitektur, seperti Candi Jago atau Candi Naga pada percandian panataran. Kemudian, di setiap sisi candi terdapat relief sejumlah tokoh pewayangan. Seperti sulur burung, kera, kepala kala, serta manusia menyerupai ghana.

”Salah satu keistimewaan Candi Kesiman Tengah ini mempunyai relief yang menggambarkan kisah Samudramanthana pada sisi barat candi,” imbuhnya.

Museum Nasional Indonesia menjelaskan, relief Samudramanthana menggambarkan kisah pengadukan samudera susu dan perebutan guci berisi tirta amerta atau air keabadian.

Kisah tersebut melibatkan Penyu Akupa, Naga Basuki, Gunung Mandara, para dewa, dan asura (raksasa). Penyu Akupa merupakan penjelmaan Wisnu yang bertugas sebagai tumpuan Gunung Mandara, supaya tidak tenggelam ke dasar laut.

Naga Basuki bertugas sebagai tali yang memlilit gunung untuk mengaduk samudera. Kepala Naga Basuki ditarik oleh asura, dan ekornya ditarik oleh para dewa.

Dewa Indra duduk di puncak Gunung Mandara. Sehingga gunung tersebut tidak akan melambung. Pengadukan tersebut menghasilkan racun berbahaya yang dapat menghancurkan alam semesta.

Sehingga racun tersebut ditelan Shiwa. Kemudian, Dewi Parwati, istri Shiwa, membantu untuk meremas leher Shiwa dengan keras, agar racun tersebut tidak keluar dan membahayakan dunia. Oleh karena itu, Shiwa diberi julukan Nilakantha (orang yang memiliki leher biru).

Dari pengadukan tersebut, muncul dewi Sri, Lakshmi, Apsaras, Ardhacandra yang menghiasi rambut Shiwa. Permata Kaustubha disisipkan ke mahkota Wisnu, busur, sangkha (kerang), chattra ( payung), parijata (pohon bunga abadi).

Tak hanya itu, muncul sejumlah hewan magis. Seperti Kamadhenu atau Surabhi, sosok sapi ajaib yang dapat mengabulkan permintaan, Gajah Airawata, dan Kuda Uchhaiśrawas. Serta Dhanwantari, sosok penyembuh surga yang membawa guci berisi tirta amerta.

”Biasanya sejumlah wisatawan berkunjung ke candi ini sekadar pengenalan sejarah, hingga bersemadi,” tandas Warliyah. (moch. khasib)

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #hindu #candi