RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM – Dusun/Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto juga banyak menyimpan situs bersejarah. Seperti Situs Kutogirang, yang diyakini sebagai bukti sejarah peninggalan era Raja Airlangga hingga Raja Girindrawardhana. Situs yang terletak di tengah kebun milik penduduk ini belum banyak diketahui wisatawan.
Juru pelihara (jupel) Situs Kutogirang, Ridwan, mengungkapkan, penamaan Desa Kutogirang ada kaitanya dengan sejarah peradaban di masa lampau. Penamaan Kutoguro berasal dari bahasa sansekerta yang menyimpan makna pusat pemerintahan. ”Dulu, pusat pemerintahan Kerajaan Medang Kahuripan disebut Kutoguro atau sekarang dikenal dengan sebutan Desa Kutogirang,” ujar pria berusia 32 tahun ini, Kamis (11/1).
Dia mengungkapkan, menurut informasi sejarah dari arkeologi, Kutoguro merupakan waduk kesembilan yang dibuat pada era Kerajaan Medang Kahuripan, dipimpin Prabu Airlangga. ”Strukturnya memanjang dari timur hingga ke barat. Terdiri dari bata kuno menyerupai sebuah benteng sebagai antisipasi banjir dari Gunung Perwito dan Penanggungan,” ungkapnya.
Balai Pelestarian dan Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim turut menjelaskan, Situs Kutogirang pernah mendapat perhatian N.J Krom, orang Belanda pertama yang tertarik meneliti struktur tersebut. Berdasarkan penafsiran data prasasti Jiyu dan batu bertulis di Candi Jedong, Krom mengungkapkan, bahwa Kutogirang merupakan bekas kerajaan Raja Girindrawardhana pada abad ke 15 Masehi.
Situs Kutogirang merupakan bangunan air. Hal tersebut diperkuat sejumlah pola berlubang pada dinding tembok, yang diasumsikan sebagai saluran air pada dinding bawah sisi utara. Hasil ekskavasi ditemukan sejumlah struktur. Di antaranya, struktur pertama berbentuk L berukuran 7,8 x 3,6 x 1,5 meter. Bagian kedua tersusun dari batu andesit memanjang. Sedangkan bagian ketiga berupa struktur berundak dua lapis berukuran 6 x 2,15 x 0,76 meter.
Struktur kedua terdiri dari tiga bagian dalam satu garis lurus. Bagian pertama di sisi paling timur berbentuk T, berukuran 4,85 x 2,5 meter. Bagian kedua di tengah berukuran 33 x 1,2 x 0,6 meter dan bagian ketiga berada di sisi paling barat berukuran 23,4 x 0,8 meter. Struktur ketiga memanjang orientasi barat hingga timur berukuran 70,1 x 1,5 x 0,6 meter. Serta, sebagian berorientasi sisi utara hingga selatan berukuran 2,5 x 1 x 0,6 meter.
Ridwan mengungkapkan, situs tersebut terakhir mendapatkan perhatian dari pihak terkait pada tahun 2018 silam. Namun, disayangkan, sebagian struktur situs tersebut dikubur kembali. Saat itu hanya untuk pendataan situs cagar budaya.
Sebelum adanya penyelamatan cagar budaya, ratusan batu bata kuno hilang dikuasai oknum tidak bertanggung jawab pada tahun 1974. ”Kalau musim hujan, strukturnya tergenang air, sehingga roboh. Maka dari itu, sebagian struktur dikubur kembali dan juga karena sebagian lahan belum ada pembebasan,” tandas Ridwan. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris