RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM – Mojokerto dikenal sebagai Bumi Majapahit karena banyaknya tempat peninggalan bersejarah pada era Kerajaan Majapahit. Terutama, peninggalan kerajaan di daerah Trowulan. Salah satunya adalah Candi Minak Jinggo.
Candi Minak Jinggo tak jauh dari Kolam Segaran, menjadi salah satu peninggalan era Majapahit. Candi Minak Jinggo di Dusun Unggahan, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini menjadi wisata bersejarah. Meski, ekskavasi yang dilakukan di Candi Minak Jinggo belum selesai, tetapi candi ini terawat dengan baik oleh juru pelihara (jupel).
Bangunan Candi Minak Jinggo, menyisakan struktur berukuran 27,8 × 24,3 meter. Pintu masuk Candi Minak Jinggo diyakini dari bagian barat, hal ini karena ditemukan struktur seperti tangga. Pada bagian tengah, menjadi bagian utama candi, tempat para raja beribadah menghadap ke arah matahari terbit.
”Tempat suci bagi umat Hindu menghadap ke timur, menghadap ke Gunung Semeru,” kata Asik, juru pelihara (jupel) Candi Minak Jinggo, Kamis (11/1). Candi Minak Jinggo dibangun oleh Raden Wijaya atau raja pertama Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana.
Candi ini dulunya digunakan sebagai Sanggar Pamujaan atau Sanggar Pamelengan, tempat beribadah bagi para raja Majapahit dan keluarga kerajaan. ”Tidak sembarang orang bisa beribadah disini kecuali raja dan keluarganya,” imbuhnya.
Hal ini di perkuat karena struktur bangunan candi yang tak biasa layaknya candi di Trowulan. Pada bagian pondasi, Candi Minak Jinggo tersusun dari batu merah. Sedangkan, pada bagian tubuh, kepala, dan mahkota candi terbuat dari baru andesit yang memiliki corak khas. ”Tempat ini istimewa, dilihat dari struktur bangunannya,” ungkapnya.
Pada ekskavasi yang dilakukan pada tahun 2010, di bagian tengah Candi Minak Jinggo ditemukan kepala arca naga. Arca ini ditemukan dalam kondisi tidak utuh, bagian atas arca hingga saat ini belum ditemukan. Sedangkan relief pada batu andesit yang banyak ditemukan dalam area Candi Minak Jinggo bermotif sapi.
”Karena ini tempat suci, dan hewan sapi pada kepercayaan Hindu adalah hewan yang disucikan,” ujarnya. Hingga saat ini, Candi Minak Jinggo disakralkan masyarakat setempat. Tak jarang pengunjung datang dari berbagai daerah. Seperti, Mojokerto, Malang, Tuban, Jakarta hingga tamu wisata dari Netherlands. ”Paling sering pengunjung datang napak tilas keagamaan,” tandasnya. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris