RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM – Dusun/Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang menyimpan situs sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Seperti, Candi Rimbi. Dulunya, difungsikan sebagai tempat beribadah umat Hindu pada abad ke-13 hingga 15. Candi yang tersusun dari bebatuan andesit berukuran besar. Menyusul temuan arca Dewi Parwati.
”Dulunya, candi ini difungsikan sebagai tempat pemujaan Dewi Parwati, dan pendarmaan kepada Ratu Tribuana Wijaya Tunggadewi, ratu ketiga Kerajaan Majapahit,” ujar Sodim, juru pelihara (jupel) Candi Rimbi, Rabu (10/1).
Dia mengungkapkan penamaan candi tersebut diambil dari nama tokoh pewayangan, Dewi Arimbi, ibunda Gatot Kaca. ”Di areal candi itu pernah ditemukan arca Dewi Parwati dan Durga Mahisasuramardhini bertaring. Arca tersebut direpresentasikan Dewi Arimbi yang digambarkan sosok tinggi, besar, dan bertaring sebagai keturunan Gandarwa” imbuh pria 57 tahun ini.
Sementara itu, demi menjaga keamanan sejumlah temuan artefak seperti, arca Ganesha, Durga Mahisasuramardhini, disimpan di Museum Empu Purwa. Serta, arca Dewi Parwati tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.
Pada setiap bagian sisi candi terdapat ukiran relief yang menyimpan makna sejumlah kisah. Balai Pelestarian dan Kebudayaan (BPK) Wilyah XI Jatim menjelaskan, makna relief pada Candi Rimbi menggambarkan narasi kehidupan Panji dan masyarakat desa.
Di samping itu, terdapat 51 panil relief yang terukir dalam bingkai persegi mengelilingi dinding tingkat pertama kaki candi. Sehingga relief tersebut tidak tergambar secara panjang. Namun, mengambil sejumlah adegan tertentu yang dianggap mewakili isi cerita.
Sejumlah relief menceritakan tentang air, penyucian diri, aktivitas sehari-hari hingga kisah fabel. Salah satunya, kisah Garudeya yang dianggap bagian dari air kesucian. Kemudian, digambarkan duduk menghadap ibunya yang sedang memberikan restu.
Kisah yang hanya digambarkan satu panil tersebut menceritakan sosok Garuda memohon restu Winata, sebelum mencari air amerta di dasar laut. Bertujuan membebaskan ibunya dari cengkeram Kadru. Tak hanya itu, relief lainnya menceritakan tentang air. Seperti, sosok Satyawan dan Suwistri menyeberangi perairan dan mandi bersama dalam satu gentong.
Belakangan ini, areal candi dirawat baik oleh dua jupel yakni, Parno dan Sodim. Wisata ini tidak dipungut biaya sepeser pun. Setiap harinya, wisatawan cukup ramai mengunjungi sekadar berfoto, mencari informasi sejarah hingga melakukan ritual. ”Pada musim liburan, wisatawan Candi Rimbi mencapai 500 hingga 700 kunjungan setiap bulan,” tandas Sodim. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris