Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Makam Tandhak Jawa dan Watu Kendang, di Desa Watesumpak, Trowulan

Moch. Chariris • Kamis, 11 Januari 2024 | 03:02 WIB
KERAMAT: Pengunjung mengamati empat makam yang dipercaya makam tandhak atau penari Jawa, di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Annisa for Radar Majapahit)
KERAMAT: Pengunjung mengamati empat makam yang dipercaya makam tandhak atau penari Jawa, di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Annisa for Radar Majapahit)

RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Wilayah Trowulan masih kental akan peninggalan Kerajaan Majapahit. Salah satunya ada di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Terdapat empat makam di desa ini yang dipercaya sebagai makam tandhak atau penari Jawa pada masa Kerajaan Majapahit. Tak jauh dari makam tandhak atau sekitar 500 meter, terdapat batu yang disakralkan masyarakat setempat. Batu ini biasa disebut dengan nama watu kendang, atau batu gendang.

SEJARAH: Pengunjung mengamati Watu Kendang, di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Annisa for Radar Majapahit)
SEJARAH: Pengunjung mengamati Watu Kendang, di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (foto: Annisa for Radar Majapahit)

Hariyadi juru kunci makam menjelaskan, empat makam tersebut ditemukan warga dari tahun 1994. Di antaranya, terdapat makam Eyang Suro Dipo, Eyang Suro Benco, Eyang Suro Dimang, dan Eyang Nyai Sekar Taji. ”Makam tandhak ini ada satu tandhak,” ungkap dia, Rabu (10/1).

Makam di sisi barat adalah makam Eyang Suro Benco. Di samping, ada makam Eyang Suro Dipo dan Eyang Suro Dimang. ”Terakhir ini adalah makam tandhak-nya. Nama tandhak adalah Eyang Nyai Sekar Taji,” jelas Hariyadi.

Tak jauh dari lokasi makam tandhak, juga terdapat lahan persawahan yang biasa disebut masyarakat sebagai sawah watu gong. ”Mitosnya dulu itu ada suara dari sawah pada hari-hari tertentu, seperti gamelan kesenian Jawa. Tapi, saat dilihat warga ternyata tidak ada seseorang sama sekali,” imbuh pria 60 tahun ini.

Tak jauh dari area makam juga terdapat dua batu berbentuk mirip kendang. Masing-masing sepanjang 1,5 meter, dan berdiameter 1 meter. Warga setempat biasa menyembutnya dengan watu kendang lanang (laki-laki) dan watu kendang wedhok (perempuan).

Dia menambahkan, pada tahun 1970-an dua batu ini pernah dicuri. Namun, kedua batu kembali ke tempat semula, setelah 40 hari dicuri. ”Dulunya batu ini berdekatan. Namun, sekarang terpisah akibat peristiwa pencurian itu,” ungkap Hariyadi.

Pengunjung yang datang di makam tandhak dan watu kendang, biasa hanya dari kawasan Trowulan. Hingga sekarang batu-batu tersebut masih disimpan dan dirawat di rumah warga. ”Belum banyak yang tahu,”  tandas Haryadi. (annisa)

Editor : Moch. Chariris
#makam #majapahit #penari #watesumpak