RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang menganut agama Hindu-Buddha terbesar di Jawa. Meski demikian, terdapat sebuah sejarah masuknya agama Islam pada masa itu. Sejarah tersebut merujuk pada selir dari Raja Brawijaya V, yaitu Putri Campa. Putri Campa menjadi selir yang paling disayangi dan akhirnya mampu membujuk sang raja untuk menganut agama Islam.
Putri Campa memiliki nama asli Putri Dwarawati. Ia berasal dari Kerajaan Campa, yang kini disebut dengan negara Vietnam. Awal kedatangan Putri Campa ke Majapahit ditemani pengasuh setianya, Eyang Kinasih kisaran, di usia 17 tahun. ”Putri Campa itu berasal dari Kerajaan Campa yang merupakan kerajaan Islam,” ujar Siti Mariam, ibu dari Hartono (jupel) Makam Putri Campa, Minggu (7/1).
Dengan latar belakang dari kerajaan Islam, maka Putri Campa tetap menganut agama Islam saat berada di Kerajaan Majapahit. Diyakini, Putri Campa merupakan bibi dari Raden Rahmat atau yang dikenal dengan Sunan Ampel. ”Putri Campa merupakan bibi dari Raden Rahmat Sunan Ampel,” jelas Siti Mariam.
Siti Maryam mengungkapkan, Putri Campa menjadi selir yang paling dicintai Raja Brawijaya V pada 1430 Masehi. Dikarenakan paras Putri Campa yang cantik jelita. Selain itu, dari pernikahan dengan Putri Campa, Raja Brawijaya dikaruniai seorang putra bernama Raden Patah.
Dimana Raden Patah sendiri merupakan pendiri kerajaan pertama Kesultanan Demak, Jawa Tengah. ”Putri Campa sangat disayang Prabu Brawijaya. Karena dengan Putri Campa, Prabu memiliki seorang putra bernama Raden Patah, menjadi raja kerajaan Islam di Demak,” imbuhnya.
Raja Brawijaya V yang semula teguh menganut agama leluhurnya, akhirnya luluh dan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Hal tersebut tak lain didasari besar cinta sang raja terhadap Putri Campa dan Raden Patah. ”Prabu Brawijaya V di-Islamkan langsung oleh putranya. Dan setelah menjadi mualaf, Prabu Brawijaya memutuskan melakukan pertapaan di Gunung Lawu,” terangnya.
Putri Campa wafat terlebih dahulu, di usia muda, yakni 35 tahun, pada tahun 1448 Masehi atau 1370 Saka. Setidaknya hal itu tercantum pada tulisan batu nisan makam Putri Campa. Pada masa tuanya, Raja Brawijaya berwasiat jika meninggal nanti jasadnya ingin dimakamkan berdampingan dengan makam Putri Campa. ”Sebelum wafat, Prabu Brawijaya minta dijadikan satu dengan makam Putri Campa,” papar Siti Maryam.
Sesuai dengan wasiat, kini makam Putri Campa dan Raja Brawijaya V dimakamkan dalam satu lokasi. Dalam kompleks pemakaman Islam Putri Campa juga terdapat makam para kerabat dari Raja Brawijaya V. (putri fadiyah)
Editor : Moch. Chariris