Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Tradisi Nginang di Masa Majapahit, Ikhtiar Merawat Gigi hingga Menyegarkan Napas

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 7 Januari 2024 | 04:53 WIB
ARKEOLOGIS: Candi Sojiwan di Klaten, Jawa Tengah, memiliki relief yang menggambarkan aktivitas menginang berikut tempat sirih dan tempat meludah.
ARKEOLOGIS: Candi Sojiwan di Klaten, Jawa Tengah, memiliki relief yang menggambarkan aktivitas menginang berikut tempat sirih dan tempat meludah.

RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Kebiasaan menginang ada sejak zaman Majapahit. Pada era 1400-an Masehi itu, masyarakat Jawa sudah biasa mengunyah pinang dengan daun sirih dan limau.

Dilakukan kala senggang, nginang menjadi cara merawat gigi, menyegarkan napas, hingga menangkal rasa lapar. Kebiasaan penduduk Nusantara mengonsumsi sirih dan pinang disebut-sebut sudah berlangsung sebelum era Kerajaan Majapahit.

JEJAK SEJARAH: Relief Karmawibhangga pada kaki Candi Borobudur menggambarkan berbagai tanaman termasuk pinang yang menjadi bahan utama menginang.
JEJAK SEJARAH: Relief Karmawibhangga pada kaki Candi Borobudur menggambarkan berbagai tanaman termasuk pinang yang menjadi bahan utama menginang.

Secara umum terdapat tiga unsur utama bahan kinang. Yakni pinang, daun sirih, dan kapur sirih (injet). Sejarah tradisi yang juga dikenal dengan nama nyirih ini setidaknya tercatat dalam sebuah relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9), Klaten, Jawa Tengah.

Pahatan itu menggambarkan tempat sirih dan tempat meludah atau dubang dengan seseorang sedang mengunyah di sampingnya. Gambaran ini menjadi petunjuk tradisi menginang telah dilakukan masyarakat Jawa Kuno.

Hal ini juga dibenarkan oleh Budayawan Mojokerto Putut Nugroho. Menurutnya, mengunyah sirih berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan gigi. ”Jauh sebelum zaman Majapahit, saat era Majapahit, dan sampai sekarang, nginang masih banyak dilakukan untuk merawat gigi sekaligus mengharumkan napas,” tutur perupa asal Kota Mojokerto ini.

Kegiatan menginang, kata Putut, masih banyak dilakukan masyarakat Jawa, Bali, hingga kawasan Nusa Tenggara. Khususnya mereka yang sepuh dan memegang tradisi itu. Selain dengan campuran daun sirih dan pinang, ada pula yang menggunakan tambahan tembakau atau yang dikenal dengan istilah nyusur.

”Baik pria ataupun wanita melakukan ini,” imbuhnya. Putut menjelaskan, manfaat menginang juga diungkap Tome Pires dalam The Suma Oriental yang ditulis pada abad ke-16. Dalam buku itu, nyirih disebut membantu pencernaan, menenangkan otak, dan memperkuat gigi.

Karena itu, orang-orang yang mengunyahnya pun memiliki gigi yang utuh, tidak ompong. Kondisi ini bahkan sampai umur 80 tahun. Tome Pires, lanjutnya, menyatakan mereka yang nyirih memiliki napas harum dan berubah amat bau jika sehari saja tidak nyirih.

Sebelum si penjelajah Portugis, Ma Huang dalam kronik ekspedisi Laksamana Cheng Ho abad ke-15 juga memberi kesaksian tentang kebiasaan menginang oleh masyarakat Jawa.

Dia menyebut kalau pria dan wanita terus-menerus mengunyah pinang dengan daun sirih dan limau atau jeruk nipis. Catatannya dalam Yingya Shenglan (Laporan Umum Pantai-pantai Samudera) bertitimangsa 1416 Masehi itu juga mengungkap jika masyarakat menerima tamu, mereka tidak menawarkan minum, tetapi menawarkan pinang.

 

Editor : Moch. Chariris
#gigi #majapahit #nginang