RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM- Kisah Kerajaan Majapahit tak luput dari tersohornya seorang panglima kerajaan bernama Mahapatih Gajah Mada. Sosok legendaris ini terkenal di Bumi Majapahit hingga penjuru negeri Nusantara.
Di Bumi Majapahit terdapat sebuah sumur yang diyakini sebagai peningggalan sang panglima perang kerajaan. Situs tersebut bernama Situs Sumur Sakti Majapahit. Situs ini terletak di areal pemukiman penduduk di Dusun/Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Juru pelihara (jupel) Situs Sumur Sakti Gajah Mada, Supriyanto, mengungkapkan, situs tersebut diyakini menyimpan sejarah yang berkaitan dengan Panglima Gajah Mada. ”Konon, areal sumur ini sebagai tempat berteduh atau persinggahan sementara Mahapatih Gajah Mada bersama pasukanya, ketika akan berangkat berperang,” ujar pria 53 tahun ini, Jumat (5/1).
Di samping itu, situs ini berbentuk persegi pada bibir sumur yang tersusun dari batu bata, serta batu andesit pada sisi dalamnya. Tak hanya itu, terdapat sebuah ruangan untuk menyimpan arca dan lumpang. ”Pada zaman dahulu, di areal situs tersebut dikelilingi rimbunan empat pohon beringin berukuran besar,” tambah Puji, kakak Supriyanto.
Ironisnya, sejumlah arca di situs tersebut raib dicuri oknum tak bertanggung jawab. Sehingga, saat ini hanya menyisakan beberapa benda purbakala.
Supriyanto menegaskan, sejauh ini, situs tersebut belum terdaftar sebagai situs cagar budaya secara resmi. Dikarenakan, minimya bukti dan informasi purbakala. Meski demikian, situs ini tetap dianggap sebagai cagar budaya oleh warga setempat dan pengunjung. ”Situs ini awal mulanya masih berupa sendang. Kemudian, dibangunkan layaknya sebuah sumur,” imbuh Supriyanto.
Sebelumnya, Supriyanto menerima amanah sebagai jupel untuk melanjutkan tugas sang ayah, Sakun. Tempat sejarah peninggalan era Kerajaan Majapahit ini disakralkan warga dan sejumlah wisatawan yang berkunjung.
Mereka meyakini kemujaraban air sumur ini jika dikonsumsi. ”Situs ini sering dikunjungi dan difungsikan warga hingga tokoh lintas agama sebagai rangkaian ritual acara adat. Seperti, khitanan, pernikahan, ruwat dusun,” tandasnya.
Tak jarang pada bulan Muharram, situs ini ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Mereka datang dengan beragam tujuan. Seperti, memandikan pusaka dan bertapa. Bahkan, air situs ini turut menjadi bagian dari tujuh sumber mata air bumi Majapahit kendi Nusantara Ibu Kota Negara (IKN).
”Pada saat, Gubernur Jatim prosesi pengambilan air di Mojokerto, air di situs ini turut mengambil bagian dari tujuh sumber mata air untuk IKN, karena dianggap memiliki warisan sejarah era Majapahit,” pungkas Supriyanto. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris