RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM, - Kawasan Mojokerto merupakan bagian dari bumi Majapahit yang mewariskan banyak peninggalan bersejarah. Akhir-akhir ini, banyak ditemukan situs bersejarah yang diyakini sebagai peninggalan purbakala.
Salah satunya ditemukan sebuah Situs Gapuro, di Dusun Gapura, Desa Mojojajar, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Situs ini ditemukan di tengah areal lapangan voli dusun setempat. Lokasi situs ini berdekatan dengan perkebunan tebu.
”Dulu, situs ini ditemukan karena ketidaksengajaan warga ketika menggali tanah untuk pondasi gedung posyandu, kemudian menemukan adanya struktur bata merah kuno,” ujar Handrik Budi Santoso juru pelihara (jupel) Situs Gapuro, Selasa (2/1).
Berawal dari temuan warga menggali tanah guna pembangunan posyandu, kemudian menemukan batu bata merah dan struktur bangunan kuno. Setelah dirasa adanya struktur kuno di lokasi tersebut, warga melapor ke Balai Pelestarian dan Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim.
Handrik mengatakan, situs ini ditemukan pada tahun 2016. Kemudian, tak butuh waktu lama, BPK meninjau dan melakukan ekskavasi. Dari hasil ekskavasi yang ditemukan sebuah struktur bangunan kuno menyerupai sebuah pondasi bangunan pemerintahan kerajaan terdahulu. Diperkirakan sebuah tempat tinggal Adipati kerajaan sebelum era Majapahit.
BPK Wilayah XI Jatim menjelaskan, terdapat dua struktur yang bersebelahan di sisi barat dan timur. Di sisi barat situs ini merupakan pintu masuk menuju massa struktur yang kedua yang teridentifikasi sebagai gapura. Sisanya merupakan bagian kaki gapura, terdiri dari atas batur, anak tangga, pipi tangga dan agar di sisi kanan dan kiri gapura.
”Sejauh ini belum ada riset penelititan tentang sejarah situs ini. Meskipun, susunan bata di situs ini hampir lapuk terkubur tanah. Perkiraan situs ini sudah ada pada era Raja Airlangga, karena dilihat dari ukuran batanya berbeda dengan batu bata era Majapahit,” ujar pria 36 tahun ini.
Situs ini dapat dikunjungi warga umum tanpa dipungut biaya Tak jarang wisata ini dikunjungi oleh pelajar hingga wisatawan dari beragam daerah. Seperti, Mojokerto, Jombang dan Banyuwangi. ”Saya senang jika ada wisatawan yang tertarik mengunjungi situs ini, karena menghargai salah satu warisan sejarah,” tandas Handrik. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris