RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Wilayah Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menyimpan banyak cerita sejarah masa lampau. Baik pada masa Kerajaan Majapahit maupun kerajaan-kerajaan sebelumnya.
Salah satunya Makam Panjang di Dusun Unggahan, Desa/Kecamatan Trowulan. Makam tersebut diyakini sebagai tempat penyimpanan senjata pada masa sebelum Kerajaan Majapahit, yaitu Kerajaan Singosari.
Nama Makam Panjang diambil dari bentuk makam yang tidak lazim. Makam ini memiliki ukuran yang panjang dan lebar. Panjang 5 meter dan lebar 2 meter. Makam Panjang ini diyakini berisi senjata dan pusaka peninggalan Kerajaan Singosari. Bukan sebaliknya, jasad manusia yang dikuburkan.
”Makam ini bukan makam orang, tapi tempat penyimpanan senjata perang dan pusaka,” kata Suwito, jupel Makam Panjang, Selasa (2/1). Di atas Makam Panjang, terdapat batu nisan tertulis aksara Jawa, Trowulan Majapahit. Tak hanya itu, terdapat batu di depan makam bertuliskan aksara Jawa, petilasan makam Majapahit ditata lan diresiki 1903.
Suwito mengungkapkan, dalam area Makam Panjang juga terdapat tiga makam lainnya. Makam tersebut diyakini makam keluarga dari Mbah Sleman. Mbah Sleman merupakan penjaga bunker atau tempat penyimpanan senjata pusaka di era Kerajaan Singosari.
”Selain Makam Panjang di sini juga terdapat makam dari penjaga bunker senjata pusaka perang di era sebelum Majapahit,” ujarnya. Uniknya, makam dari keluarga Mbah Sleman juga memiliki ukuran tak biasa. Lokasi dari tiga makam keluarga Mbah Sleman tersebut berjejar di sisi barat Makam Panjang.
Selain makam, di area tersebut terdapat tempat khusus untuk bersemedi di sisi timur belakang Makam Panjang. Bangunan itu, sengaja dibuat khusus bagi tamu yang ingin melakukan ritual. ”Bangunan ini digunakan untuk tamu yang ingin bersemadi,” imbuhnya.
Di samping itu, terdapat sumur tua di dekat makam Mbah Sleman. Sumur kuno tersebut diyakini menjadi sumur kuno yang sudah ada sejak tempat ini ditemukan. Bahkan, hingga kini, sumur tersebut dikeramatkan warga sekitar. ”Sumur ini sudah ada sejak awal ditemukannya tempat ini,” ungkapnya.
Suwito menjelaskan, pengunjung yang datang ke Makam Panjang berasal dari berbagai daerah. Seperti Mojokerto, Jombang, Surabaya, Kediri, Malang, Klaten, Bandung, hingga dari luar Jawa. Di antaranya Kalimantan dan Lampung. Aktivitas yang biasa dilakukan pengunjung cukup beragam. Mulai dari berdoa, ritual, sembahyang, hingga bersemadi. ”Pengunjung biasanya datang pada waktu tertentu. Seperti Jumat legi dan di bulan purnama,” tandasnya. (nadya azzahra/putri fadiyah)
Editor : Moch. Chariris