Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Pengobatan di Zaman Majapahit Andalkan Bahan Herbal dan Supranatural

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 31 Desember 2023 | 22:44 WIB
JEJAK SEJARAH: Panil relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur menggambarkan seorang laki-laki yang sakit parah tengah dirawat. (dok Kemendikbud for JPRM)
JEJAK SEJARAH: Panil relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur menggambarkan seorang laki-laki yang sakit parah tengah dirawat. (dok Kemendikbud for JPRM)

RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Masyarakat Majapahit mengandalkan bahan-bahan herbal untuk penyembuhan penyakit. Dari meramu dedaunan dan rempah menjadi jamu hingga obat bubuh luka luar.

Selain mengandalkan metode nonmedis karena pengaruh kepercayaan supranatural, masyarakat Majapahit juga mengenal metode penyembuhan secara medis seperti dengan pemijatan hingga mengonsumsi obat-obatan. ’’Pengobatan ini menggunakan tumbuhan,’’ ujar Budayawan Mojokerto Putut Nugroho.

BUKTI SEJARAH: Batu Yoni yang menjadi ikon dari Situs Bhre Kahuripan, di Dusun/ Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto Nadya Azzahra for Radar Majapahit)
BUKTI SEJARAH: Batu Yoni yang menjadi ikon dari Situs Bhre Kahuripan, di Dusun/ Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto Nadya Azzahra for Radar Majapahit)

Dalam meracik obat-obatan, mereka yang hidup pada zaman Kerajaan Majapahit abad 14-15 Masehi itu mengandalkan jenis-jenis tanaman obat dengan pemanfaatan bagian-bagian tertentu. Seperti rimpang dan umbi jahe, kunyit, kencur, lempuyang, temu, dan lengkuas.

Pemanfaatan daun dari sirih, kangkung, pandang, dan puring. Batang dari kayu manis, pulosari, dan ule. Buah dari mengkudu, kelapa, jeruk nipis, belimbing wuluh, kapulaga, maja, dan asam. Biji dari pinang, kecubung, pala, dan adas. Serta akar aren dan semua bagian tumbuhan sambiloto.

Berbagai bahan herbal tersebut ada yang diolah dengan cara ditumbuk maupun dimasak menjadi jamu. ’’Penumbukan terkait dengan pengobatan luka luar,’’ imbuhnya.

Setelah ditumbuk, obat tersebut dibubuhkan ke luka terbuka. Peramu obat di zaman kuno memiliki kedudukan penting. Ahli jamu disebut dengan acaraki. Namanya tertuang dalam Prasasti Madhawapura, Prasasti Balawi, Situs Liyangan, dan relief candi Borobudur.

Aktivitas praktik pengobatan juga tergambarkan dalam sejumlah situs bersejarah. Seperti dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur.

Dalam satu relief seorang lelaki tampak sakit cukup parah sampai harus ditangani beberapa orang. Ada yang memegang kepala, seolah sedang memijat.

Beberapa lainnya memegang lengan dan kaki. Sementara orang lainnya tampak sedih. Di panil lainnya, seorang laki-laki juga sedang diberi perolongan. Kepalanya dipijat. Perut dan dadanya digosok. Seseorang tergambar sedang memegangi obat untuknya.

Editor : Moch. Chariris
#majapahit #jamu #herbal #obat