RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Peninggalan Kerajaan Majapahit yang tersebar di Kabupaten Mojokerto, mewariskan berbagai cerita sejarah. Situs Klinterejo berada di sisi barat petilasan Ratu Tribuana Wijaya Tunggadewi di Desa/Dusun Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, diyakini kuat sebagai situs yang sangat disakralkan.
Terlebih, terdapat sebuah relief yang bentuknya menyerupai Surya Majapahit. Pola itu menggambarkan sebuah kekuasaan, kekuatan, dan kedigdayaan kerajaan besar menguasai Nusantara. Di sisi lain, tumpukan batu bata kuno membentuk pola segi delapan, membuat bangunan situs ini tampak lebih unik dan bernilai estetika tinggi.
”Struktur batu bata pinggir ini yang membentuk pola Surya Majapahit, meski keadaanya sudah tidak sempurna,” kata Nur Salim, jupel Situs Klinterejo, Jumat (29/12).
Sebelum diekskavasi, situs yang ditemukan di areal persawahan tersebut sekadar membentuk sebuah puthuk (gundukan tanah). Nur salim mengungkapkan, memang di sekitar area situs dulunya terdapat tiga puthuk.
Puthuk pertama bernama Ploso, sedangkan puthuk kedua dan ketiga bernama Jati dan Kudu/Keduyo. Nama-nama puthuk ini diambil dari pepohonan yang tumbuh di sekitar puthuk. ”Di sini ada tiga puthuk, saat digali ternyata ketiganya terdapat struktur,” ujarnya.
Puthuk bagian utara ditemukan sebuah struktur bangunan yang diyakini menyerupai sebuah ruangan. Sedangkan puthuk bagian tengah ditemukan bangunan dengan motif Mandala. Di bagian ini, menjadi bagian terbesar di Situs Klinterjo.
Meski di Situs Klinterejo tidak ditemuan arca dalam kondisi utuh, tetapi di Situs Klinterejo tersebut justru banyak ditemukan ratusan batu umpak. Di puthuk bagian barat struktur yang diyakini sebagai pagar pembatas. ”Kalau di area Situs Klinterjo ini saja ada sekitar 14 watu umpak,” tambahnya.
Menurut Nur Salim, dulunya tempat ini diyakini sebagai tempat pendharmaan atau para resi berkumpul. Para resi membuat arahan-arahan pada masa Kerajaan Majapahit. Kemudian para resi berpindah ke Tribuana Wijaya Tungga Dewi untuk melalukan sembahyang.
Nur salim mengungkapkan, seiring berkembangnya waktu, belakangan banyak pengunjung yang datang. Mulai dari napak tilas peninggalan Kerajaan Majapahit, obeservasi, hingga menggelar ritual sembahyangan. ”Biasanya orang yang datang ritual itu di hari Jumat legi,” pungkas dia. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris