RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Mojokerto merupakan Bumi Majapahit yang mewariskan banyak peninggalan bersejarah. Belakangan ini, menjamur ditemukan situs sejarah diyakini sebagai peninggalan purbakala.
Salah satunya, temuan dua struktur Candi Grinting, di Dusun Grinting, Desa Karangjeruk, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Candi Grinting ditemukan di areal persawahan milik warga setempat. Lokasi candi tersebut berdekatan dengan saluran irigasi persawahan dan jalan setapak.
”Dulu, tanah tersebut ditemukan perajin batu bata merah ketika menggali tanah. Kemudian menemukan adanya struktur bata merah kuno,” ujar Mega, juru pelihara (jupel) Candi Grinting, Kamis (28/12). Sebelumnya, Mega menerima amanah sebagai jupel untuk melanjutkan tugas sang nenek, Supi.
Berawal dari temuan seorang perajin batu bata menggali tanah, kemudian menemukan beberapa batu bata merah kuno, serta struktur yang diyakini candi. Belakangan juga diketahui, tanah tersebut milik keluarga Mega. Setelah dirasa ada sebuah struktur candi, pemilik tanah lantas melapor ke Balai Pelestarian dan Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim.
Mega mengungkapkan, struktur tersebut ditemukan pada tahun 2001. Satu tahun kemudian, BPK meninjau dan melakukan ekskavasi. Dari hasil ekskavasi ditemukan dua struktur Candi Grinting berada di bawah permukaan.
Struktur pertama ditemukan di dekat saluran irigasi persawahan. BPK Wilayah XI Jatim menjelaskan, Struktur pertama berada pada sebuah cekungan atau kedalaman tanah dengan dilengkapi dinding bata pada lapisan tanah di sampingnya. Hal ini sekaligus untuk mencegah longsornya tanah di sekitarnya.
Memiliki akses tangga masuk di sisi selatan berfungsi memudahkan perawatan. Struktur ini dilindungi oleh sebuah cungkup terbuka beratapkan seng. Tanah sekitar berupa lahan sawah yang ditanami padi.
Sedangkan, struktur kedua, lokasinya hanya berjarak 5 meter dari struktur pertama dan terdapat kuncup untuk melindungi situs. ”Setelah ekskavasi, areal struktur dibangunkan tembok melingkar, bertujuan untuk melindungi kondisi candi dari kerusakan alam,” ujar perempuan 31 tahun ini.
Kedua struktur candi tersebut tersusun dari batu bata merah kuno. Namun, Mega mengaku sejauh ini pihaknya masih mencari informasi terkait bentuk, fungsi, dan sejarah Candi Grinting.
”Belum ada riset penelitian sejarah dari arkeolog. Meskipun, belum diketahui pasti bentuknya. Perkiraan candi sudah ada pada era Kerajaan Kadiri, karena letak candi berada di bawah permukaan,” tuturnya
Situs ini dapat dikunjungi warga umum tanpa dipungut biaya. Tak jarang, sejumlah wisatawan yang datang, turut meyakini kesakralan pada candi tersebut. Sehingga, seringkali candi dijadikan sebagai sarana ritual. ”Biasanya pengunjung melakukan ritual pada malam hari, tanpa sepengetahuan saya,” tandasnya. (moch. khasib/putri fadiyah)
Editor : Moch. Chariris