MEMPROSES daun lontar menjadi media menulis rupanya sudah dilakukan masyarakat sebelum era Majapahit. Lantaran berbahan organik, manuskrip kuno yang ada tak seawet prasasti batu dan logam yang bisa bertahan hingga ratusan tahun.
Sejumlah kitab termasyhur era Majapahit justru terselamatkan oleh tradisi menyalin kitab masyarakat Bali. ’’Banyak ahli yang setuju bahwa tradisi menulis di daun lontar itu sudah ada sejak sebelum Majapahit,’’ ujar Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D.
Namun begitu, menurutnya kitab-kitab karya pujangga Wilwatikta, seperti Negarakertagama, Sutasoma, Arjunawijaya, Pararaton, hingga Sundayana, tidak terselamatkan secara utuh.
Faktor utamanya adalah daun lontar sebagai media utama menulis itu sendiri yang berbahan organik. Sehingga, tidak seawet prasasti batu dan logam yang bisa bertahan berabad-abad lamanya. ’’Naskah lontar asli dari masa Majapahit atau sebelumnya itu, setahu saya, tidak pernah ditemukan. Karena lontar bukan barang yang awet seperti prasasti,’’ ungkapnya.
Justru, menurutnya manuskrip kuno yang ada saat ini merupakan hasil dari tradisi menyalin kitab yang dilakukan masyarakat Bali. Artinya, kitab yang ada kini bukan gubahan asli para pujangga tersohor seperti Empu Prapanca dan Tantular.
’’Jadi sastra kuno yang sampai di kita sekarang kebanyakan diselamatkan tradisi menyalin kitab kuno yang ada di Bali. Disalin kembali oleh para pujangga Bali di atas daun lontar dan disimpan di pura,’’ beber alumnus Fakultas Ilmu Budaya UNAIR ini.
Kitab kuno yang ada saat ini, lanjut Tommy, bahkan usianya tidak lebih dari dua abad. Padahal, Majapahit berdiri lebih dari 700 tahun lalu. Hal ini menjadi penguat jika manuskrip daun lontar yang ada merupakan buatan baru. Di sisi lain, hal itu sekaligus menyelamatkan karya para leluhur.
’’Kalau kata Zoetmulder (pakar sastra dan budayawan Nasional), kebanyakan naskah lontar yang ditemukan di Bali usianya paling tua sekitar 150 tahun. Tetapi isi cerita atau yang ada di dalam lontar itu yang usianya lebih tua, sejak Majapahit atau sebelumnya,’’ tandas Tommy.
Editor : Moch. Chariris