RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Sejak zaman Majapahit api sudah menjadi sumber kehidupan. Yang terpercik dari gesekan batu disimpan jadi penerangan hingga kebutuhan perapian untuk menyepuh logam.
Masyarakat Majapahit menghasilkan api secara manual. Menggesekkan benda keras diyakini masih dilakukan mengingat di era sebelum abad 16 masehi itu belum muncul alat pemantik instan seperti korek. ’’Biasanya pakai batu yang digesek atau kayu yang diputar-putar,’’ kata budayawan Putut Nugroho.
Masyarakat menggunakan objek yang mudah terbakar untuk menghasilkan api dari percikan batu atau kayu. Semisal jerami maupun rumput kering. Putut menyatakan, aktivitas menggesek tidak selalu dilakukan. Mereka memiliki prinsip menyimpan api.
Yang paling umum adalah dalam bentuk pelita. Hal ini, menurut anggota Dewan Kebudayaan Daerah Kota Mojokerto itu dibuktikan dengan temuan lampu-lampu era Majapahit.
Benda-benda diduga alat penerangan berbahan api yang ditemukan para peneliti antara lain celupak. Yakni wadah berupa terakota dengan bentuk silinder layaknya mangkuk. Celupak dinyalakan dengan minyak jarak atau kelapa yang dilengkapi dengan sumbu dari serat kapas.
’’Lampu-lampu tradisional ini untuk mempertahankan api sehingga kegiatan memantik tidak selalu dilakukan,’’ terangnya. Selain dari tanah liat, terdapat pula temuan celupak gantung berbahan logam.
Di samping menciptakan api dengan menggesek benda keras, masyarakat era Jawa Kuno itu juga memanfaatkan keberadaan api abadi. Seperti situs Kayangan Api yang sampai sekarang masih menyala di Bojonegoro. Putut menegaskan, keberadaan api pada masa itu memang vital. Di samping sebagai sumber kehidupan utama seperti memasak dan penerangan, api juga berguna untuk menyepuh logam.
Kegiatan pandai besi seperti yang tertera pada relief Candi Sukuh, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menggunakan alat tradisional. Di antaranya yakni ubub. Alat penghasil tekanan udara ini dipakai untuk menjaga nyala api selama proses pembuatan benda-benda berbahan metal.
Editor : Moch. Chariris