RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM - Selama musim penghujan, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur menyatakan akan lebih meningkatkan konsentrasi pelestarian, perawataan, dan pemeliharaan cagar budaya di wilayahnya.
Kawasan Gunung Penanggungan menjadi salah satu titik fokusnya. Menyusul, di sekitar Gunung Pawitra (gunung Suci), sebutan lain Gunung Penanggungan, selama ini tersimpan ratusan benda cagar budaya. Meliputi, situs, candi, artefak, dan peninggalan benda kuno lainnya.
Kepala BPK Wilayah XI Jatim Indah Budi Heriyani menuturkan, monitoring dan pengawasan benda cagar budaya di kawasan Gunung Penanggungan tersebut selama ini memang sudah rutin dilaksanakan. Akan tetapi, memasuki pergantian musim, Indah menyatakan, pengawasan dan perawatan lebih ditingkatkan.
”Prinsipnya melalui monitoring. Petugas kita terjunkan rutin melihat untuk kondisi cagar budaya yang ada di sekitar Gunung Penanggungan,” ungkap Indah kepada Radar Majapahit, Jumat (22/12) malam.
Seperti diketahui, berdasarkan studi selama dua tahun (2012-2014) di kawasan gunung suci itu telah ditemukan sekitar 116 situs. Meliputi percandian atau objek kepurbakalaan. Mulai dari kaki sampai mendekati puncak Gunung Penanggungan. Namun, di sisi lain, eksplorasi keberadaan situs dan kepurbakalaan yang pernah dilakukan tim UTC/UPC Universitas Surabaya (Ubaya) hingga 2017, jumlahnya justru terinvetarisasi mencapai 198 situs atau bangunan kepurbakalaan.
”Ya kalau berdasarkan jumlah memang banyak ya, ada ratusan. Namun, yang menjadi konsentrasi kami, bagaimana cagar budaya di sana tetap aman dan terawat. Tidak terjadi kerusakan,” imbuh Indah.
Beberapa struktur yang ditemukan di antaranya berupa Gapura Jedong (926 Masehi), Petirtaan Jolotunda (abad ke-10), Petirtaan Belahan (1009 M), Candi Kendalisodo, Candi Merak, Candi Yudha, Candi Pandawa, dan Candi Selokelir (tahun 1900).
Indah mengakui dari banyaknya cagar budaya yang ada, memang belum memungkinkan bagi BPK Wilayah XI Jatim menugaskan juru pelihara (jupel) di setiap situs atau candi. ”Sudah ada beberapa jupel yang ditugaskan di beberapa candi. Itu nanti yang membantu mengawasi,” papar dia. Jupel-jupel yang ditugaskan tersebut belakangan sudah diploting di Petirtaan Jolotundo, Candi Selokelir, dan beberapa situs lainnya.
Indah menegaskan, pihaknya tidak memungkiri faktor alam cukup memengaruhi kondisi candi. Terlebih, jika sedang terjadi cuaca buruk atau musim penghujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama. Sehingga dikhawatirkan berpotensi terjadi longsor yang justru akan menimbun dan merusak struktur kepurbakalaan. ”Makanya, jupel kita minta patroli dan monitoring dari candi satu ke candi yang lain,” tegas dia.
Diharapkan dari pengawasan rutin tersebut, BPK Wilayah XI Jatim lebih mudah memetakan sekaligus menginventarisir kondisi candi selama musim hujan. Dengan tetap mengutamakan keselamatan dan mempertimbangkan cuaca ketika sedang berpatroli. ”Harapan kami, keberadaan situs dan keperbulakaan di sana (Gunung Penanggungan) tetap aman dan terjaga,” pungkas Indah.
Editor : Moch. Chariris