SEBAGAI wilayah yang menjadi pusat Ibu kota Kerajaan Majapahit, belakangan ini, banyak peninggalan sejarah. Baik berupa candi, kanal, dan sumur yang tersebar di beberapa titik. Hal ini sekaligus menjadi bukti Kerajaan Majapahit, kala itu sudah menerapkan sistem teknologi pengendalian air.
Salah satu temuann lainnya berupa Situs Sumur Kuno I. Lokasinya berada di sisi barat Pendapa Agung Trowulan. Peninggalan terdahulu di Dusun Ngelinguk, Desa/Kecamatan Trowulan ini, diyakini sebagai salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan air bagi penduduk di era Kerajaan Majapahit.
Empat buah sumur, berupa dua sumur bata berbentuk lengkung dan dua sumur berbentuk persegi. Struktur bangunan sumur disusun menggunakan batu bata berbentuk persegi dan lengkung. Namun, terdapat satu sumur dengan susunan batu bata yang tampak berantakan dan terkubur.
Meski demikian, situs ini cukup menarik perhatian masyarakat. ”Kalau mau ke sini memang harus ada effort, berjalan sekitar 100 meter dari jalan raya. Termasuk, melewati jalan setapak di tengah perkebunan tebu,” ujar Rizki Firmansyah, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.
Tak hanya itu, situs juga diduga kurang mendapat perhatian dan perawatan. Kendati sudah terpasang papan peringatan, bahwa situs tersebut di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK Wilayah XI Jatim.
Nanang, penjaga warung di depan situs menceritakan, lokasi situs ini terbilang sulit ditemukan pengunjung. Bahkan, setidaknya sudah empat kali dia menemui pengunjung yang tersesat dan bertanya arah menuju Situs Sumur Kuno ini.
"Ya, maklum saja. Lokasi situsnya di tengah sawah dan tertutupi tanaman tebu. Apalagi, situs ini juga belum ada juru peliharanya," katanya. Menurut Nanang, lokasinya yang berada di tengah persawahan, membuat situs Sumur Kuno Pendapa ini jarang dikunjungi wisatawan.
”Belum banyak yang berkunjung ke sini. Mungkin, karena situsnya belum terkenal. Bisa juga karena keberadaan situs yang sulit ditemukan,” tandasnya. (misbakhul ulum)
Editor : Moch. Chariris