Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kerajaan Majapahit Ekspor Meriam ke Malaka

Chariris • Senin, 4 Desember 2023 | 21:14 WIB
SENJATA ANDALAN: Koleksi meriam cetbang di Museum Talaga Manggung, Majalengka, Jawa Barat. (dok Museum Talaga Manggung)
SENJATA ANDALAN: Koleksi meriam cetbang di Museum Talaga Manggung, Majalengka, Jawa Barat. (dok Museum Talaga Manggung)


KEDIGDAYAAN Kerajaan Majapahit tak lepas dari pesatnya kegiatan perekomian. Khususnya di sektor industri metal berupa pataka hingga senjata perang. Skala perdagangannya tak hanya antardaerah di nusantara, melainkan sampai internasional.





Perkembangan industri pada era Majapahit mencangkup benda berbahan tanah liat, kayu, metal, dan logam mulia. Tanah liat diolah menjadi kriya yang disebut terakota. Pengolahan ini dilakukan dengan cara membakar tanah. Produk yang dihasilkan berupa gerabah sampai peralatan sehari-hari.





’’Misal kebutuhan memasak dan estetika seperti pot, mereka banyak menggunakan terakota,’’ kata budayawan Putut Nugroho. Sementara itu, oleh para pandai besi, bahan logam diproduksi menjadi beragam perkakas hingga ani-ani alias alat panen padi.





Putut mengungkapkan, proses pengolahan bahan metal menggunakan alat pandai tradisional seperti yang sekarang masih eksis. Yakni berupa ubub atau pemompa udara berupa tabung kayu dan bambu.





’’Perkakas itu berkaitan dengan kegiatan sehari-hari, misal untuk memasak, bekerja, dan senjata keris sampai tombak,’’ ujarnya. Proses pembuatan peralatan dari besi dapat dilihat dalam relief Candi Sukuh, Karanganyar, Jateng.





Data sejarah tersebut menunjukkan bahwa penggunaan unsur metal telah berkembang di abad ke 12 sampai 16 masehi tersebut. Pada era kejayaannya di bawah kepemimpinan Raden Wijaya, lanjut Putut, Majapahit bahkan sudah mampu membuat meriam.





Senjata ini ditempatkan di armada kapal perang Majapahit dengan nama meriam cetbang. ’’Ini untuk keperluan tempur maupun untuk pengamanan kapal ketika berlayar,’’ tandas anggota Dewan Kebudayaan Daerah Kota Mojokerto itu.





Pesatnya teknologi industri, khususnya di bidang persenjataan, tak lepas dari status Majapahit sebagai kerajaan besar. Perdagangan internasional melalui kekuatan integrasi pelabuhan-pelabuhan seperti Canggu dan jalur Sungai Brantas membuat kerajaan yang diyakini berupasat di Trowulan ini menjadi jujukan saudagar-saudagar asing. Keberadaan bangsa luar itu turut mempengarungi perkembangan teknologi saat itu.





Misalnya, Putut menyebut, sistem mesiu meriam yang digunakan pasukan Majapahit banyak mengadopsi dari China. ’’Karena hubungan dengan China saat itu sudah terkait melalui perdagangan. Itu dibuktikan misalnya dengan kehadiran Cheng Ho yang sampai lebih dari satu kali ke Majapahit,’’ bebernya.





Kemampuan meriam buatan Majapahit ini juga telah diakui oleh dunia internasional. Salah satunya diekspor ke wilayah lain seperti Kerajaan Malaka di Malaysia. ’’Peralatan militer yang dikembangkan Majapahit khususnya di era akhir memang sudah luar biasa,’’ tegas dia.





Tak hanya industri artileri, imbuh Putut, masyarakat Majapahit juga memproduksi logam mulia berupa emas menjadi pataka hingga perhiasan. Menurutnya, aktivitas pembuatan emas ini dapat dilacak dari nama-nama wilayah, salah satu daerah Kemasan, Blooto, yang sekarang berada di Kota Mojokerto.





’’Bahwa kemasan itu tempat untuk memproduksi emas, secara topografi daerah ini juga memungkinkan karena dulu dialiri sungai besar dan Prasasti Empu Sindok juga ditemukan di sana,’’ tuturnya. (yulianto adi nugroho/fendy hermansyah)





Photo
Photo
BERSEJARAH: Meriah cetbang menjadi senjata api modern andalan pasukan maritin Kerajaan Majapahit. (dok 1001indonesia.net)

Editor : Chariris