Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Situs Saluran Air, Bukti Irigasi Era Majapahit Sudah Kedepankan Teknologi

Chariris • Rabu, 29 November 2023 | 22:13 WIB
KLASIK: Situs saluran air di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menjadi bukti kemajuan teknologi bidang pertanian di era Majapahit. (foto: misbakhul ulum)
KLASIK: Situs saluran air di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, menjadi bukti kemajuan teknologi bidang pertanian di era Majapahit. (foto: misbakhul ulum)


KERAJAAN Majapahit memiliki sejarah besar dalam membangun Nusantara. Bahkan, terobosan dan inovasi saat itu jadi pelopor pembangunan peradaban saat ini. Terutama, dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air. Satu lokasi yang telah diakui sebagai cagar budaya adalah situs saluran air atau kanal di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.





Nah, tidak jauh dari Pendapa Agung, Trowulan. Lokasi Situs Saluran Air ini terletak di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.





Sepanjang perjalanan dari arah Dusun Unggahan, Desa/Kecamatan Trowulan tersebut terlintasi pemukiman padat penduduk serta fasilitas umum, seperti sekolah. Tak begitu sulit untuk menemukan situs tersebut. Hampir seluruh warga Dusun Nglinguk mengetahui lokasi situs Kanal Majapahit tersebut.





Situs berupa konstruksi kanal sepanjang kurang lebih 56 meter itu, lantas terlihat sewaktu memasuki area perkebunan tebu. Sekilas, situs tersebut tampak lengang. Rumput taman yang dibentuk menyerupai pagar hidup serta rimbun tanaman tebu yang mengelilingi situs tersebut menambah keteduhan.





Kemudian, di tepi jalan berdiri papan imbauan mengisyaratkan, area situs di Dusun Nglinguk, Kecamatan Trowulan ini berada di bawah naungan BPCB atau sekarang disebut Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jatim.





"Sekitar tahun 2008, saya diamanahi menjadi juru pelihara situs ini," ungkap Khoirul Anam, warga setempat sekaligus pemilik lahan, Rabu, (29/11). Menurutnya, situs ini berupa tumpukan batu bata membentuk kanal atau saluran air dengan panjang sekitar 56,92 meter.





Bentuk saluran air membujur dari timur ke barat. Sementara, struktur dinding saluran berada di sisi utara dan selatan. Lebar saluran antara dinding sisi utara dan dinding sisi selatan berjarak rata-rata 90 cm, dengan ketinggian struktur saluran air antara 90 cm hingga 1meter lebih.





Struktur bangunan situs saluran air ini tersusun dalam 11 lapisan bata dan 1 lapisan bata plint di bagian dasar saluran. Pada dinding struktur sisi selatan sebagian sudah rusak atau hilang.





Khoirul Anam menceritakan, sebelum ditemukannya situs saluran air, dulunya tempat ini sempat difungsikan masyarakat untuk produksi kerajinan batu bata. Kemudian, sekitar tahun 2007 silam, Nuruddin, perajin batu bata di lahan milik Khairil Anam menemukan situs tersebut ketika cangkul yang diayunkan terkena bata kuno di area yang digali.





Merasa terdapat benda bersejarah, Nuruddin penasaran dan terus menggali sebelum akhirnya Khoirul Anam bersama warga sekitar melaporkan temuan tersebut ke BPK. Bahkan, warga menduga, situs saluran air ini dianggap sebagai bukti kemajuan teknologi irigasi era Majapahit.





”Adanya situs ini membuat saya takjub dengan kecerdikan masyarakat di era terdahulu (era Majapahit, Red). Kanal air yang dibangun dengan tumpukan bata ini seperti yang dilakukan di era sekarang,” tukasnya.





Dia mengungkapkan, dari cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat, sarana prasarana pengelolaan sumber daya air yang kompleks itu diyakini sebagai karya teknologi pertanian zaman Kerajaan Majapahit. Bahkan, sektor agraris jadi salah satu tulang punggung perekonomian kerajaan. (rizki firmansyah/moch. chariris)









Photo
Photo
DILINDUNGI: Kanal atau Situs Saluran Air yang diperkirakan sebagai peninggalan Kerajaaan Majapahit di Trowulan. (foto: rizki firmansyah)

Editor : Chariris