Tak hanya menggunakan bahan organik dari alam. Petani masa Majapahit juga merawat tanamannya dengan membuat perangkap hingga orang-orangan sawah alias memedi. Cara itu dilakukan untuk menghalau hama walang sangit serta burung perusak padi.
Hama walang sangit yang mengakibatkan turunnya kualitas gabah. ”Petani di zaman Majapahit melakukan upaya pemberantasan dengan membuat perangkap,” terang anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim, Edi Triharyantoro. Setidaknya terdapat tiga jenis perangkap. Yakni yang memanfaatkan serat tali, hewan ketam atau sejenis kelomang, dan terasi atau belacan.
Perangkap pertama dibuat dengan merendam serat tali di bekas air rendaman belalang kapa. Tali tersebut kemudian dibentangkan di tengah sawah dan akan mengundang walang sangit berkerumun. Di sanalah, petani kemudian membasminya. Sementara itu, fungsi terasi dan ketam juga untuk menarik walang sangit sehingga mudah untuk dibunuh.
Petani tradisional juga menghadapi hama dari burung-burung pemakan biji padi. Seperti burung gelatik dan burung emprit. Untuk mengusirnya, petani menggunakan plencung atau bambu yang diisi dengan lumpur atau tanah di ujungnya. Alat tersebut diayunkan ke arah sasaran sehingga isiannya terlempar. Alat penghalau lain yakni memedi atau orang-orangan sawah serta kitiran atau baling-baling. Suara dari alat tersebut berguna mengusir para burung.
Edi menyatakan, berbagai kearifan bertani zaman kulo itu masih banyak diterapkan petani saat ini. "Semua teknologi pertanian itu berjalan selaras dengan pengetahuan tentang mangsa tanam sehingga panen petani berhasil," ujarnya. (yulianto adi nugroho/imron arlado)