PROGRAM pertanian organik digencarkan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Di era Kerajaan Majapahit yang masih serba alami, kebutuhan pupuk hingga obat pestisida untuk tanaman dipenuhi menggunakan bahan-bahan dedaunan. Cara itu rupanya ampuh menjadikan pertanian sebagai penopang kehidupan ekonomi masyarakat Wilwatikta.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim, Edi Triharyantoro menceritakan, teknologi pertanian Majapahit berkembang pesat pada masa kejayaannya di era Hayam Wuruk. Moncernya hasil pertanian tak lepas dari kondisi geografis ibu kota kerajaan, diasumsikan berada di Trowulan, yang berupa dataran dengan diapit gunung dan sungai. ’’Sehingga itu memungkinkan suburnya tanaman,’’ ujar warga Jalan Raya Ijen, Kota Mojokerto, itu.
Edi menyebut, Prasasti Trailokyapuri (1486 masehi) memuat keterangan tentang teknologi pertanian seperti irigasi sawah hingga jenis-jenis tanaman yang ditanam masyarakat. Catatan ini juga terdapat pada Prasasti Kandangan (1350 masehi).
’’Jenis tanaman saat itu didominasi tanaman populer berupa padi, jagung, dan ketela,’’ tandas mantan kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPK) Samarinda tersebut.
Pembangunan bendungan pada masa Majapahit membuat hasil pertanian masyarakat mengalami surplus. Berbagai sumber menyebut sedikitnya terdapat 20 bendungan/waduk yang menopang pertanian dengan 9 di antaranya berada di sekitar Trowulan. Demikian juga dengan peralatan penunjang seperti luku dan garu untuk menggemburkan tanah.
Menurut Edi, kemampuan masyarakat memanajemen pertanian juga terlihat dari pengetahuan mereka memanfaatkan bahan alami untuk memenuhi nutrisi tanaman. Untuk penyubur misalnya, petani menggunakan pupuk kandang dan pupuk alami berupa dedaunan yang membusuk. Sisa tanaman yang telah dibakar menjadi abu juga disebarkan ke lahan tanam sebagai pupuk.
Hal serupa juga berlaku ketika masyarakat meramu berbagai dedaunan untuk mengusir hama. Pria 68 tahun itu melanjutkan, obat pelindung tanaman disesuaikan dengan jenis hama yang dihadapi. Antara lain hama hewan menthek, lodhoh, linting, walang sangit, burung, dan jenis binatang perusak lainnya. Serangan menthek membuat batang padi layu, sedangkan penyakit lodhoh yang berasal dari sejenis ulat menyebabkan daun jadi meliting.
Untuk mengatasi menthek, petani tradisional mengandalkan ramuan daun baubar dan daun tulak. ’’Jenis daun ini secara khusus diambil dari kuburan,’’ katanya mengutip PH. Subroto dalam buku 700 Tahun Majapahit. Daun-daun tersebut ditanam di bagian tulakan sawah atau saluran masuknya air parit ke sawah. Petani juga mengeringkan sawah dari genangan air untuk membasmi hama lodhoh.
Edi menyatakan, kepercayaan terhadap kekuatan dewa dan kutukan masih kuat di tengah masyarakat Wilwatikta. Selain menggunakan bahan herbal, petani juga melalukan sejumlah ritual dan ucapara sesaji untuk mengusir hama. Mereka memanfaatkan apa yang berasal dari alam secara proporsional agar tidak terjadi kekacauan.
’’Dipilihnya Trowulan sebagai ibu kota, di samping pertimbangan religius, juga karena kepekaan terhadap kondisi tanah yang subur,’’ tandas pria yang selama 24 tahun bertugas di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Trowulan tersebut. (yulianto adi nugroho/fendy hermansyah)