DINAS Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto kini punya lima orang pemuda sebagai tenaga ahli. Punya latar belakang yang beragam, mereka tergabung dalam Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang berkutat pada peninggalan kuno. Lantas apa yang mendorong mereka terjun ke “dunia” kuno tersebut?
Kelima tenaga muda itu adalah Taufan Arif Tri Laksono, Astridamafisah Mubarok, Rizki Pratama, Muhammad Riyanto dan Rif’atul Hasanah. Usia mereka tak lebih dari 35 tahun dan asli pemuda asal Kabupaten Mojokerto. Latar belakang masing-masing TACB ini pun berbeda-beda. Namun, mereka memiliki disiplin ilmu yang masih relevan. Yakni, di bidang ilmu sejarah, arkeologi, sastra jawa kuno hingga IT dan hukum.
Kendati begitu, mereka telah mengantongi sertifikasi uji kompetensi ahli cagar budaya Dirjen Kebudayaan besutan Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek. Kelimanya saat ini terlibat dalam proses seleksi penetapan cagar budaya tingkat kabupaten yang berlangsung sejak 4 Oktober lalu. Dengan melakukan observasi dan kajian pada 20 objek diduga cagar budaya (ODCB) di 18 kecamatan untuk direkomendasikan pada Bupati.
’’Sejak awal tahun lalu itu kita ditawarin sama tim dari Disbudporapar untuk jadi TACB. Jadi ya saya ikut saja, apalagi disiplin ilmu pendidikan saya linear. Arkeologi bidang prasejarah,’’ ujar Taufan. Alumnus Universitas Udayana ini menuturkan, sejak lulus 2019 lalu dirinya sempat berwirausaha sebelum bergabung dalam tim. Tawaran bergabung sebagai tenaga ahli dalam bidang cagar budaya ini pun tak dilewatkannya. Terlebih ia menyukai dunia arkeologi sedari kecil.
’’Sebenarnya sudah senang sama arkeologi sejak kecil. Ya sejak lihat film Jurassic Park awal tahun 2000-an itu,’’ terang pria 29 tahun ini. Diakuinya, tergabung dalam TACB ini menjadi kali pertama pihaknya terjun dalam dunia arkeologi secara profesional. Diakuinya, ia memilih terjun ke dunia ’’kuno’’ tersebut karena ingin terlibat dalam pelestarian cagar budaya di Bumi Majapahit.
’’Ini sesuai passion dan keinginan saya pribadi. Dengan begini saya bisa berperan aktif dalam pelestarian cagar budaya lewat proses penetapan yang kita lakukan,’’ terang pemuda asal Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, ini. (martda vadetya/moch. chariris)