SEMENTARA itu, Supratikno Rahardjo dalam buku Inspirasi Majapahit menjabarkan perjalanan keliling yang dilakukan kalangan elit Kerajaan Majapahit sebagai semacam ’’ritual kehidupan’’ yang lengkap.
Sebab, perjalanan ini memenuhi kebutuhan fisik, ekonomi, politik, sosial, dan spiritual. Bahkan, kebutuhan rekreasi pun terpenuhi melalui perjalanan ’’dinas’’ tersebut.
Motif rekreasi atau mencari kesenangan terindikasi melalui kegiatan perburuan yang dilakukan rombongan di tengah-tengah perjalanan. Mereka masuk ke hutan yang jauh dari permukiman warga untuk memburu binatang.
Aktivitas berburu dilakukan masyarakat Jawa Kuno sebagaimana digambarkan pada relief Candi Borobudur. Mereka berburu burung atau mencari ikan di sungai, danau, atau laut.
Masyarakat melumpuhkan burung menggunakan tulup, sedangkan untuk menangkap ikan, dikenal alat seperti jala, icir, dan wuwu.
Bukan hanya hobi, menurut Supratikno, kedatangan rombongan di negara bawahan juga disambut dengan pertunjukan seni seperti tari. Raja Hayam Wuruk disebut pula kerap menikmati pemandangan selama melawat ke wilayah kekuasaannya.
’’Raja Hayam Wuruk memanfaatkan perjalanan ini untuk menikmati pemandangan indah di tempat-tempat tertentu yang dilewatinya,’’ ujarnya dalam bab Empat Warisan Utama Majapahit itu.
Dengan demikian, Supratikno menyatakan, inspeksi ke daerah-daerah dengan beragam tujuan ini dilakukan untuk keseimbangan hidup.
Melalui ritual perjalanan keliling inilah, Kerajaan Majapahit dapat menjaga integrasi masyarakat dan kedaulatan negaranya. (yulianto adi nugroho/fendy hermansyah)
Editor : Chariris