Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kisah Kunjungan Kerja Raja Majapahit, Awasi Negara Bawahan

Chariris • Sabtu, 7 Oktober 2023 | 18:31 WIB
KUNJUNGAN KERJA: Ilustrasi lawatan rombongan Raja Hayam Wuruk dalam buku Oud Soerabaia karya GH Von Faber. (dok internet)
KUNJUNGAN KERJA: Ilustrasi lawatan rombongan Raja Hayam Wuruk dalam buku Oud Soerabaia karya GH Von Faber. (dok internet)


BERKUNJUNG ke wilayah kekuasaan menjadi tradisi kalangan elite Majapahit. Raja Hayam Wuruk dikisahkan kerap melawat ke negara bawahan dengan ditemani pejabat tinggi kerajaan dan penguasa daerah.





Perjalanan yang memakan waktu berminggu-minggu itu salah satunya bertujuan mencegah pemberontakan. Pola perjalanan keliling wilayah oleh penguasa Kerajaan Majapahit disebut Supratikno Rahardjo dalam buku Inspirasi Majapahit (2014), sebagai sebuah pencapaian penting dalam evolusi kerajaan-kerajaan Hindu-Budha.





Dosen arkeologi Universitas Indonesia itu menyimpulkan terdapat empat warisan utama Majapahit. Meliputi harmoni, toleransi, kosmopolitan, dan kreativitas. 





Nilai harmoni, kata Supratikno, tercermin melalui kisah perjalanan para elite kejaraan dari ibu kota (diyakini di Trowulan, Kabupaten Mojokerto) hingga Lumajang pada 1359 Masehi. Cerita itu tertuang dalam mahakarya Negarakertagama.





Mpu Prapanca selaku pengarang kitab menulisnya dalam bentuk laporan pandangan mata karena dirinya terlibat dalam rombongan perjalanan sejak awal hingga akhir. 





Supratikno menjelaskan, ’’perjalanan dinas’’ itu membutuhkan energi, waktu, dan biaya yang besar. Seperti yang disebutkan, lawatan yang dipimpin Raja Hayam Wuruk ini membutuhkan 400 pedati dengan diikuti rombongan yang menaiki gajah, kuda, dan berjalan kaki.





’’Melibatkan rombongan besar raja Majapahit beserta para pejabat tingginya, termasuk para penguasa daerah yang tinggal di ibu kota beserta istri-istri mereka,’’ tuturnya. 





Perjalanan tersebut memakan waktu selama 10 minggu atau sekitar dua bulan setengah. Rute perjalanan yang dilalui setidaknya melintasi 210 desa, yang mencangkup kawasan seluas 15 ribu mil persegi.





Supratikno menyatakan, mengingat frekuensi dan sumber daya yang harus disiapkan, ’’kunjungan kerja’’ elite kerajaan itu memiliki arti sangat penting, termasuk bagi rakyat. 





Berdasarkan pandangan politik, mennurutnya perjalanan ini bisa jadi merupakan instrumen untuk mengontrol tingkat kepatuhan negara-negara bawahan kepada pusat.





Lumajang yang terletak di ujung timur wilayah Majapahit tercatat pernah melakukan pemberontakan.





Latar belakang keamanan dan keinginan menjaga keutuhan wilayah kekuasaan itu pula yang menjadi alasan mengapa para penguasa daerah terlibat dalam rombongan yang dipimpin langsung oleh Mahapatih Gajah Mada tersebut. 





Tak hanya ke Lumajang, lanjutnya, Majapahit pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk juga melakukan perjalanan sepura ke berbagai daerah lain.





Misalnya, yang tercatat di Negarakertagama adalah perjalanan ke Pajang pada 1353 Masehi, Lasem pada 1354 Masehi, Lodaya pada 1357 Masehi, Tirib dan Sompur pada 1360 Masehi, Palah atau Blitar pada 1361 Masehi, dan ke Simping pada 1363 Masehi. 





Dari segi agama, Supratikno menjelaskan, lawatan rombongan kerajaan juga menjadi sarana ziarah ke tempat suci dan pusat kehidupan keagamaan. Di antara tempat pertapaan yang disambangi adalah Sagara.





’’Mereka juga melakukan upacara-upacara pemujaan di candi-candi yang merupakan tempat pendharmaan para leluhur dinasti Majapahit, antara lain di Singhasari, Kagenengan, Kidal, dan Jajagu,’’ bebernya dalam bab Empat Warisan Utama Majapahit itu. 





Secara ekonomi, perjalanan keliling ini juga menjadi mekanisme bertukar barang. Proses itu terjadi melalui ritual saling memberi.





Pada umumnya, katanya, para pejabat daerah menyambut kedatangan raja dengan memberikan persembahan berupa hasil bumi dan ternak untuk dibawa ke kota. Sebagai balasan, raja membagikan barang-barang berupa kain, uang, picis, hingga emas. (yulianto adi nugroho/fendy hermansyah)





Photo
Photo
KUNJUNGAN KERJA: Ilustrasi lawatan rombongan Raja Hayam Wuruk dalam buku Oud Soerabaia karya GH Von Faber. (dok internet)

Editor : Chariris