Jejak peninggalan kerajaan Majapahit di Kabupaten Mojokerto cukup banyak. Salah satunya, Situs Petilasan Eyang Patih Gajah Mada, di kawasan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jombang, Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.
Sebelum memasuki menuju petilasan, pengunjung dan peziarah langsung disambut dengan sebuah patung Mahapatih Gajah Mada, di sisi utara situs. Patung itu sekaligus sebagai penanda adanya petilasan.
Petilasan tersebut terletak di sebuah bangunan menyerupai pendapa kecil. Memasuki lebih dekat ke dalam bangunan, terdapat batu besar dibungkus kain bewarna merah putih. Dikelilingi pagar besi berukuran sekitar 1 meter. Konon, batu tersebut diyakini sebagai tempat pertapaan Patih Gajah Mada dan mencari wangsit. Termasuk, awal ide tercetusnya Sumpah Amukti Palapa.
Di samping kanan petilasan, terdapat ruangan terkunci berukuran setinggi 1,5 meter dengan panjang dan lebar 2 meter. Tempat tersebut, diduga sebagai area suci persemedian para petinggi Majapahit di masa silam. ”Dulu, ini tempatnya para petinggi Majapahit bersemedi,” tutur juru kunci, Tuminah, kepada Radar Majapahit, Senin (2/10).
Mbah Tum, begitu Tuminah akrab disapa, menuturkan, tempat ini memang dikenal sebagai pertapaan dan bersemedi Mahapatih Gajah Mada. ”Patih Gajah Mada, dulu itu, bersemedi selama 10 tahun di tempat ini. Mulai semedi berumur 20 tahun hingga 30 tahun, sebelum melanjutkan perkelanaan di tempat lain,” imbuh perempuan 93 tahun itu.
Sumpah Amukti Palapa kemudian diucapkan pada upacara pengangkatan Gajah Mada sebagai Patih Amangkubumi Majapahit, tahun 1253 Saka atau 1331 M. Mahapatih Gajah Mada mengikrarkan sumpah tersebut di hadapan Ratu Tribuana Tunggadewi dan para petinggi kerajaan, sekitar 1253 Saka atau 1331 Masehi.
Kini, petilasan ini, imbuh Tuminah, banyak didatangi pengunjung dari berbagai wilayah di Indonesia. Di antaranya Wonogiri, Banjarmasin, Makassar, Jogjakarta, hingga peziarah di Jawa Timur. ”Biasanya, mereka tidak datang secara rombongan. Sekitar 2-3 orang saja,” sebutnya.
Dia menceritakan, petilasan ini tidak hanya difungsikan Mahapatih Gajah Mada untuk bersemedi. Konon, lokasi itu menjadi titik berkumpulnya pasukan Bhayangkara berkoordinasi dengan Mahapatih Gajah Mada. ”Tempat ini juga sempat dijadikan Eyang Patih Gajah Mada sebagai titik koordinasi bersama pasukannya. Dulu, ya, di sini ngumpulnya,” pungkas Tuminah, juru kunci petilasan sejak tahun 1963 itu. (firman/moch. chariris)