Rampungnya ekskavasi lanjutan Situs Gapura Bajang Ratu, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, memecahkan sebagian teka-teki cagar budaya tinggalan Majapahit tersebut.
Gerbang megah dari bata merah tersebut kuat dugaan merupakan gapura menuju halaman utama candi atau bangunan suci era Wilwatikta. Ekskavasi lanjutan sejak 6-12 September hasil kolaborasi BPK Wilayah XI Jatim dan Disbudporapar Kabupaten Mojokerto ini memperkaya sekaligus memperkuat data yang ada. Sejak situs pendarmaan Raja Jayanegara ini terakhir kali digali dan dipugar pada tahun 1980-an silam.
Temuan struktur pagar di sisi barat dan timur yang menyatu dengan sayap gapura memperkuat asumsi. Jika gapura setinggi lebih dari 10 tersebut merupakan pembatas halaman kedua kompleks dan halaman utama candi.
’’Melihat dari sebaran struktur yang telah tampak, umumnya gapura semegah ini sebagai pintu masuk menuju candi atau bangunan suci. Yang membatasi halaman kedua dengan halaman utama (kompleks),’’ terang Ketua Tim Ekskavasi Situs Gapura Bajang Ratu M Ichwan.
Apalagi, gapura halaman utama candi di era Majapahit punya karakteristik yang sama dengan salah satu situs di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, ini. ’’Gapura halaman utama candi di era Majapahit jenisnya paduraksa seperti Gapura Bajang Ratu ini. Untuk gapura jenis candi bentar, seperti Gapura Wringin Lawang biasanya gerbang pertama menuju kompleks,” beber Arkeolog BPK Wilayah XI Jatim ini.
Hanya saja, pihaknya masih belum bisa memastikan letak struktur candi peninggalan Raja Tribuwana Tunggadewi tersebut. Apakah di sisi utara atau selatan gapura. Apalagi, orientasi kompleks Bajang Ratu relatif unik.
Yakni, tidak menghadap ke Gunung Penanggungan seperti kompleks candi era Wilwatikta lainnya. Lantaran kepercayaan Hindu-Buddha kala itu menganggap Penanggungan sebagai salah satu gunung suci di tanah Jawa.
’’Untuk letak bangunan suci ini yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Walaupun (asumsi) sementara ini, gapura menghadap ke selatan. Karena relief dan corak gapura yang lebih banyak ada di sisi selatan gapura. Biasanya sisi itu sebagai pintuk masuk,’’ tandas arkeolog jebolan Universitas Udayana Bali ini. (martda vadetya/fendy hermansyah)
Editor : Chariris