Selain kaya akan tempat wisata, Mojokerto juga tidak bisa dipisahkan dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Meski kini kerajaan tersebut sudah runtuh, namun sisa peninggalan masih dinikmati masyarakat dengan memperlihatkan kegagahan Majapahit. Misalnya, Petilasan Watu Miring.
Di tempat ini, Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa tahun 1331 Masehi. Sumpah Palapa itu disaksikan langsung Raja Majapahit, saat itu, Tribuana Wijaya Tunggadewi, hingga pejabat kerajaan.
Dalam cerita itu, Mahapatih Gajah Mada menancapkan batu tak berujung di Pendapa Agung Trowulan, Dusun Ngelinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sang Patih sengaja menancapkan batu dengan kondisi miring untuk menunjukkan kesaktiannya. Dengan alasan suatu saat akan dicabut oleh orang yang dipercayai, sebagai reinkarnasi dari Patih Gajah Mada.
Tonggak batu tersebut ditancapkan dengan kemiringan 45 derajat. Sehingga tidak sembarang orang bisa mengangkatnya. Diyakini, tonggak batu ini merupakan tempat untuk mengikat kuda atau gajah pada zaman Majapahit.
Pertama kali batu miring ini diketahui, saat ekskavasi tahun 1927 Masehi. Kemudian tahun 1976 hingga tahun 1982 dilakukan penelitian kembali. Pada tahun 1993, batu patok atau batu miring Mahapatih Gajah Mada teregristasi sebagai cagar budaya.(fitriani artanu/moch. chariris)