Universitas Surabaya (Ubaya) memiliki Museum Pawitra di Ubaya Penanggungan Center, Ubaya Integrated Outdoor Campus (IOC), Dusun Grenjeng, Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Museum ini menampilkan ratusan situs yang ditemukan di puncak Gunung Penanggungan.
Sebelumnya, Museum Pawitra merupakan galeri foto dan akhirnya direnovasi menjadi museum agar lebih hidup. Ruang depan Museum Pawitra terbagi menjadi empat bagian. Sisi utara memperlihatkan penemuan artefak bukti kehidupan yang pernah terjadi di kaki Gunung Penanggungan.
"Visualisasi hikayat Gunung Pawitra yang berdasar pada naskah Tantu Panggelaran tahun 1635 M dapat di lihat di sisi selatan museum," kata Koordinator Ubaya Penanggungan Center, Trawas, Antonius Dawurwenda. Sedangkan, di sisi barat menampilkan miniatur candi serta relief arca dan peninggalan-peninggalan lainnya yang ditemukan di atas gunung.
Bagian dalam museum menampilkan foto-foto situs penting yang didokumentasikan Tim Ekspedisi Ubaya di atas Gunung Penanggungan. Nama Pawitra diambil dari nama lain Gunung Penanggungan. Museum Pawitra difungsikan sebagai pusat informasi arkeologi dan budaya yang ada di Gunung Penanggungan mulai abad 10-16 masehi.
Museum Pawitra menggunakan teknologi VR, sehingga masyarakat maupun generasi muda bisa belajar budaya dengan lebih baik dan lebih lengkap. "Sehingga diharapkan muncul kecintaan, muncul kebanggaan terhadap budaya. Jika generasi mudanya cinta budaya maka bangsa Indonesia makin besar," ungkap Antonius Dawurwenda.
Diharapkan, Museum Pawitra tidak hanya menjadi pusat informasi tapi juga diharapkan menjadi pusat kreativitas, inovasi, munculnya ide-ide bagi para pekerja seni di Kabupaten Mojokerto. Sehingga diharapkan bisa membangkitkan kembali peninggalan-peninggalan sejarah ini dalam bentuk hasil karya yang bisa dipakai untuk meningkatkan derajat ekonomi. (moch. chariris)
Editor : Chariris