Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ritual Mandi di Petirtaan Jolotundo, Bunga Jadi Sabun, Getah Jadi Parfum

Chariris • Senin, 4 September 2023 | 22:42 WIB
PENINGGALAN SEJARAH: Petirtaan Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, menjadi tempat para resi menyucikan diri.
PENINGGALAN SEJARAH: Petirtaan Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, menjadi tempat para resi menyucikan diri.


Jika sekarang jamak ditemui produk parfum dengan kandungan minyak esensial, itu sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit. Pada zaman tersebut, pengharum badan dan ruangan dibuat dari getah kayu-kayuan yang dibakar. Sementara itu, campuran bunga-bunga hingga merang digunakan untuk mandi dan keramas.





Kerajaan Majapahit yang berkembang pesat pada abad ke-13 hingga 14 Masehi tak hanya menyimpan catatan tentang kejayaan politik. Di baliknya terdapat banyak kisah dari berbagai aspek kehidupan. Seperti ekonomi, sosial, tata kota, hingga kehidupan sosial masyarakat. Tak sedikit di antaranya yang dikenal saat ini telah berkembang pula pada masa tersebut.





Salah satunya yakni kebiasaan mengharumkan badan. Masyarakat Majapahit, kata budayawan sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Putut Nugroho telah menerapkannya. ”Pengharum badan dari bahan natural. Ada yang menggunakan bunga untuk mandi, ada getah yang dibakar untuk mengharumkan ruangan,” tuturnya, kemarin (1/9).





Bunga-bunga wewangian dicampur dalam kuali untuk mandi. Campuran bunga itu juga melekat di tubuh sehingga menimbulkan aroma serupa parfum. Selain itu, masyarakat juga menggunakan merang sebagai bahan keramas. Fungsinya yakni melemaskan dan menjaga kehitaman rambut. ”Yang keramas itu merang dibakar sampai jadi abu, lalu diberi air dan didiamkan. Air rendaman itu dipakai keramas,” jelas perupa 62 tahun yang tinggal di Miji Gang 4, Kecamatan Kranggan, tersebut.





Di samping itu, kebiasaan membakar getah kayu tertentu juga menjadi pengharum. Bahan tersebut dicampur dengan serbuk kayu cendana atau gaharu. ”Tak hanya mengharumkan ruangan, aroma dari pembakaran ini juga menempel di tubuh,” tandasnya.





Selain membersihkan badan, masyarakat kerajaan juga mengenal tradisi merawat gigi dengan aktivitas nginang. Kegiatan mengunyah sirih itu bahkan sudah dilakukan sebelum era Majapahit.





Pemerhati sejarah Majapahit Wibisono, 58, mengungkapkan, tradisi menggunakan bunga-bunga harum untuk mandi juga dilakukan dengan mencampurkan bahan ke jaladwara (pancuran air) di petirtaan. Ramuan berbagai bunga yang ditumbuk ditaruh di tempat tersebut sehingga menimbulkan aroma sedap di badan. ”Selain bunga, masyarakat Majapahit juga menggunakan dedaunan dan kulit jati untuk mengharumkan badan,” ungkap anggota DKD Kota Mojokerto asal Suronatan Gang 3, Kecamatan Magersari, itu. (yulianto adi nugroho/ imron arlado)





Photo
Photo
PENINGGALAN SEJARAH: Petirtaan Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, menjadi tempat para resi menyucikan diri.

MERIAH : Pawai yang di ikuti oleh Masyarakat Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru.
MERIAH : Pawai yang di ikuti oleh Masyarakat Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru.
Editor : Chariris