Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sakralnya Situs Reco Banteng, Pertapaan Maharaja Sri Rajasanagara

Chariris • Selasa, 29 Agustus 2023 | 00:56 WIB
IKONIK: Patung Raja Hayam Wuruk tampak ditonjolkan di halaman depan petilasan Reco Banteng, Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
IKONIK: Patung Raja Hayam Wuruk tampak ditonjolkan di halaman depan petilasan Reco Banteng, Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.


Kemasyhuran Raja Hayam Wuruk telah dikenal seantero nusantara. Kepemimpinan raja Majapahit ke-IV ini pun disegani oleh kerajaan-kerajaan lain saat itu.





Maka, tidak heran patung tokoh bergelar Maharaja Sri Rajasanagara tersebut ditonjolkan di halaman petilasan Hayam Wuruk, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Situs Reco Banteng, Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.





Wisatawan atau pengunjung yang datang langsung disambut patung raja yang menghadap ke jalan masuk petilasan. Beberapa artisektur bangunan di dalamnya yang masih tampak kuno. Peletakan beberapa patung atau arca yang mengitari area petilasan, seakan membawa suasana kerajaan Majapahit sangat sacral.





Sulistyo, pengunjung asal Kepanjen, Malang menuturkan, bahwa suasana situs petilasan yang teduh dan hening, membuatnya betah berada di situs tersebut. Bahkan, dia memutuskan bermukim di tempat ini. ”Di sini hawanya enak, ayem,” ujar Sulistyo, kepada Radar Majapahit, di lokasi.





Menariknya, ketika hendak masuk area makam, peziarah wajib mengucap tiga kali salam. Setelahnya peziarah harus membungkuk untuk melewati pintu masuk makam yang hanya bisa dilewati bergantian. Hal itu, seolah menjadi etika pertama yang perlu diperhatikan peziarah sebelum melakukan ritual.





”Itu seolah menjadi unggah-ungguh yang perlu diperhatikan peziarah. Saat masuk, harus salam dulu, terus harus membungkukkan tubuh, agar bisa masuk ke petilasan,” terang Sulistyo. Usai memasuki pintu kecil menuju petilasan, peziarah langsung disambut dengan makam berukuran sekitar 2 x 1,5 meter.





Di sekitar makam, terpampang sebuah lukisan Prabu Hayam Wuruk berukuran sekitar 1 x 1,5 meter. Tak hanya itu, hening suasana dan semerbak harum dupa kian membuat khidmat para peziarah saat hendak melantunkan doa atau penghormatan leluhur.





Petilasan yang dinaungi bangunan pendapa berarsitektur joglo itu, dipercaya masyarakat sebagai bekas pertapaan tokoh Majapahit, bergelar Maharaja Sri Rajasanagara. Konon, di bawah makam itu diyakini masyarakat sebagai tempat dikebumikannya abu sang Raja Majapahit.





Misnan, 72, petugas kebersihan situs, menyampaikan bahwa sampai kini, tempat tersebut diyakini keramat oleh sebagian masyarakat. Sehingga banyak para peziarah dari berbagai daerah yang bermukim di tempat itu sembari mendoakan leluhur dan melakukan ritual.





”Pengunjung nginep beberapa hari di sini itu biasa. Mereka sering menghabiskan waktu untuk mendoakan para leluhur,” kata Misnan. Banyaknya peninggalan sejarah serta cerita rakyat tentang situs ini, membuatnya ramai pengunjung.





Khususnya, pada hari pasaran Kliwon, dalam penanggalan Jawa. Petilasan Hayam Wuruk ramai dikunjungi peziarah. Ada yang sekadar mendoakan leluhur, menelusuri bekas sejarah Majapahit, hingga berbagai tujuan tertentu. (firman/moch. chariris)





Photo
Photo
KLASIK: Penampakan bagian depan situs Reco Banteng di Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Editor : Chariris