Sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya, Kabupaten Mojokerto memiliki ragam destinasi sejarah yang patut dijadikan jujukan berwisata sembari menambah wawasan tentang sejarah, khususnya Kerajaan Majapahit.
Sebab, Bumi Majapahit ini dikenal menyimpan ratusan situs sejarah peninggalan kerajaan yang pernah menguasai Nusantara. Di antaranya Situs Petilasan Raja Hayam Wuruk, di Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Misnan, 72, petugas kebersihan petilasan menerangkan, Petilasan Raja Hayam Wuruk memang sudah dikenal masyarakat luas. Reco Banteng, sebutan lain Petilasan Hayam Wuruk, semula berupa tugu dan arca Dewi Parwati yang menunggang banteng.
Namun, arca tersebut kini tidak ada di tempat setelah sebelumnya dikabarkan dibawa oleh kolonial Belanda ke negeri Kincir Angin. ”Kata sesepuh saya, tempat ini dulu hanya berupa tumpukan bata dan arca Dewi Parwati menunggangi banteng,” tutur Misnan, Rabu (23/8).
Kendati demikian, hal itu tak lantas mengurangi semangat warga Desa Panggih untuk tetap merawat dan melestarikan. Nama Raja Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit IV (1350-1389 Masehi), berhasil menyita perhatian wisatawan dan pelajar, hingga pemerhati sejarah.
Sehingga tak jarang mereka berkunjung ke area situs yang berada di antara perkebunan jagung tersebut dengan tujuan-tujuan tertentu. Semisa, menggali sejarah di balik sebutan Reco Banteng atau cerita Raja Hayam Wuruk, bahkan menggelar ritual.
”Beberapa minggu kemarin ada mahasiswa dan siswa SMA. Mereka menelusuri jejak sejarah dari situs ini,” tambah Misnan. Kepemimpinan sang hyang Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada pernah membawa Kerajaan Majapahit menuju puncak keemasan, menjadi daya tarik dan minat masyarakat. Terutama, sikap dan ajaran-ajaran budi pekerti yang sudah disampaikan.
Seperti yang diakui Sulistyo, warga asal Kepanjen, Malang. Dia mengaku keberadaannya di Reco Banteng bagian dari melanjutkan perjalanan atau napak tilas sejarah bagi lelana brata atau mengembara. Setelah sebelumnya mengunjungi Candi Sumberawan di Singosari, Malang, lalu berjalan menuju Trowulan, Mojokerto, sembari berjalan kaki.
”Di samping menuruti krenteke ati, perjalanan saya ini juga bertujuan untuk napak tilas sejarah Kerajaan Majapahit. Utamanya, Raja Hayam Wuruk,” tandas pria 42 tahun itu. (firman/moch. ris)