Bukti tertulis sejarah Kerajaan Majapahit relatif terbatas. Sejumlah kitab dan prasasti yang tersisa saat ini hanya secuil dari besarnya peradaban Wilwatikta kala itu. Hal tersebut diyakini sebagai imbas terbatasnya budaya menulis sebagai sarana komunikasi tidak langsung.
Budayawan Mojokerto Putut Nugraha menuturkan, kala itu masyarakat Majapahit sudah mengenal aksara dan melakukan kegiatan tulis menulis. Medianya, menggunakan kertas daun lontar hingga memahat batu dan logam menjadi prasasti. ”Tapi tidak semua bagian sejarah atau peristiwa penting yang ditulis dalam prasasti maupun kitab. Karena memang kultur budaya menulis bagi masyarakat umum masih terbatas,” ungkapnya.
Selain dampak dari mengedepankan kultur bertutur lisan, ada faktor lain yang memengaruhi. Salah satunya, tidak sembarang orang bisa menulis karya yang diabadikan dalam prasasti maupun kitab. ”Karena memang tidak sembarang orang boleh menulis dan tidak sembarang sosok untuk dikisahkan dalam tuliskan. Contohnya, kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang cenderung fokus mengisahkan perjalanan Raja Hayam Wuruk. Selain keduanya hidup semasa, mereka bukan sosok sembarangan,” urai Putut.
Putut menyebut, hal itu memperkuat asumsi jika hanya kalangan bangsawan yang bisa terlibat dalam hal tulis menulis. Lantaran isi kitab dan prasasti peninggalan Wilwatikta mayoritas menceritakan kalangan bangsawan kerajaan. Yang ditulis oleh para pujangga yang hidup semasa itu. ”Untuk karya asli dari para pujangga-pujangga itu sendiri ada beberapa kemungkinan. Apakah karyanya tidak terselamatkan, karyanya hanya untuk dikonsumsi pribadi, atau memang tidak diperbolehkan menulis selain seputar kerajaan,” sebut alumnus UGM ini.
Namun, lanjut Putut, kala itu para pujangga Majapahit telah lihai merangkai kata dengan diksi bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno yang dikuasai. Merujuk pada hasil interpretasi para peneliti pada sejumlah prasasti dan kitab peninggalan Wilwatikta. ”Dari isi tulisan kitab atau prasasti tersebut, para pujangga bisa menggambarkan dengan baik dan detail bagaimana situasi dan kondisi waktu itu,” tukas Anggota Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (martda vadetya/imron arlado)